PAPUA PEGUNUNGAN, Catatan Jurnalist – Ditengah gempuran perkembangan zaman dan kemajuan teknologi yang semakin canggih membuat hidup manusia mulai berketergantungan padanya. Hal ini berdampak sehingga menjadi budaya balas terus bertumbuh subur di hadapan kita semua.
Hal ini mengundang perhatian serius seorang penulis dan penggiat literasi asal desa Bokon Distrik Tiom Kabupaten Lanny Jaya, Angginak Sepi Wanimbo yang menyebutkan pentingnya menanamkan budaya membaca sejak dini kepada generasi muda agar mampu menghadapi kemajuan zaman.
“Sebab itu budaya balas ini tentu kita jangan merawat atau memberi pupuk tetapi menjadi musuh kita semua, maka untuk keluarga dari sona nyaman soal kemalasan ini. Tentu ada lawan tindakan nyata dan kampanye besar – besar oleh kita semua melalui forum diskusi, digereja, disekolah, dikampus, dikantor, media sosial, media cetak semua manusia Papua. Bersatu tekat kampanye tentang, “Pentingnya budaya membaca buku setiap hari,” kata Angginak, Jumat (11/04/2025).
Dirinya mengajak generasi muda agar menanamkan budaya membaca, kerana dengan membaca dapat membuat pikiran kritis dan tajam. Sebaliknya banyak bermain medsos dapat membuat otak tumpul dan dangkal.
“Baca buku bikin pikiran kritis dan tajam, sebaliknya, kebanyakan main mensos bikin otak tumpul dan dangkal. Jika brain akibat mensos adalah racun maka buku adalah penawarannya. Sejak maraknya permainan Game Online, Mensos, Wachap, Twitter dan Google membuat menurunnya minat membaca dikalangan anak muda Papua. Padahal budaya membaca telah menjadi motor utama dalam menginspirasi perubahan yang signifikan dalam masyarakat modern,” ungkap Angginak.
“Pada era teknologi yang semakin mendominasi saat ini, kebiasaan membaca menjadi kunci untuk memperluas wawasan dan memperkaya pikiran,” pungkas Putra daerah asal desa Bokon Distrik Tiom itu.
Masih dijelaskan Angginak, masyarakat yang gemar membaca cenderung lebih terbuka terhadap ide-ide baru, serta lebih mampu memahami dan menghargai perbedaan. Tidak hanya itu, budaya membaca juga memberikan kontribusi besar terhadap peningkatan pendidikan dan kualitas hidup secara keseluruhan.
“Dengan membaca, seseorang dapat memperoleh pengetahuan yang luas dan mendalam, yang nantinya dapat diaplikasikan dalam berbagai aspek kehidupan. Dalam konteks ini, perpustakaan dan pusat baca menjadi sarana penting untuk menumbuhkan minat membaca sejak dini, apalagi budaya membaca juga memiliki dampak positif dalam mengurangi kesenjangan sosial dan ekonomi,” jelasnya.
“Akses yang lebih luas terhadap bahan bacaan meningkatkan kesempatan bagi semua orang, tanpa memandang latar belakang atau status sosial. Hal ini memungkinkan terciptanya masyarakat yang lebih inklusif dan berdaya saing,” tukasnya.
Budaya membaca tidak hanya sekadar aktivitas individu, tetapi juga merupakan investasi dalam pembangunan sosial dan ekonomi yang berkelanjutan untuk mencapai kemajuan yang lebih besar dalam berbagai aspek kehidupan.
Budaya membaca sangat rendah bagi anak muda saat ini, sehingga membuat generasi muda jadi korban dalam penyakit sosial seperti isap ganja, pesta minum keras, “Miras” seks bebas, dan penyakit lainnya yang penulis tidak sebut satu persatu dalam artikel ini.
Memulai budaya baca dari diri kita sendiri, lalu kita mengajak orang lain untuk terus membudayakan baca dimana kita berada sesuai bidang ilmu yang diperoleh entah itu pelajar, pelayan gereja, mahasiswa, Aparatur Sipil Negara (ASN) dan Swasta.
Selain itu juga kita membudayakan membaca dimulai dari dimana tempat kita tinggal di perkampungan atau di perkotaan disanalah tempat untuk kita membangkit semangat baca.
Ada peningkatan budaya baca dan tulis maka penulis meyakini angka konflik yang sedang terjadi di wilayah Papua Barat ini. Sendirinya akan ada kesadaran untuk berbalik mempergunakan hidup dengan penuh suka cita dan semangat. Baca buku itu tidak bisa digantikan dengan Tiktok dan nonton Film. Karena kerja otak hanya bisa dilatih tajam kalau otak berdialog “Yaitu dengan baca buku”.
Saat ini banyak yang membuan – buan waktu emas untuk belajar lalu membuan waktu hanya dengan cerita bohon dimana mereka berada di honai, cafe, dan dimana saja.
Budaya balas, budaya tak tekun, budaya bohon, ini bukan budaya orang asli Papua. Tetapi ini budaya orang lain, sehingga kembalikan budaya tekun, fokus, jujur, setia dan rajin untuk hidup menjadikan budaya baca dan tulis.
Hari ini manusia hidup tanpa makan – makanan yang bergizi dan bervitamin untuk kesehatan manusia tersebut akan mengalami kesakitan menyebabkan tidak berkonsumasi makanan yang bergizi. Demikian manusia wajib hukum membudayakan membaca buku setiap hari untuk memberikan makan – makanan yang bergizi bagi otak supaya isi otak Anda dan saya selalu sehat dalam pelayanan.
Membaca tidak membuat orang sakit tetapi membuat orang berpikir cerdas, membaca tidak membuat orang marah tetapi membaca membuat orang maju, membaca bukan membuat orang malu tetapi membaca membuat orang berani, membaca bukan membuat orang gagal tetapi membaca membuat orang sukses, membaca bukan membuat orang berdiri ditempat tetapi membaca membuat orang keliling dunia.
Menulis melalui pena kecil diatas kertas putih itu menolong bagi yang tak tertolong, membangtu bagi yang tak dibangtu, melayani bagi yang tak dilayani, menjangkau bagi tak dijangkau, menyuarakan bagi tak disuarakan untuk hidup nyaman dan damai.
Penulis : Angginak Sepi Wanimbo
Ketua DPD – PPDI Provinsi Papua Pegunungan
Ketua DPD – PPKL & AB Provinsi Papua Pegunungan
Laporan : Wendalimo Wenda














