Hari Ozon Sedunia 2026 Dorong Aksi Nyata Pemulihan Lingkungan

RIAU, Catatan Jurnalist Peringatan Hari Ozon Sedunia 2026 tidak hanya menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran tentang pentingnya menjaga lapisan ozon, tetapi juga mendorong aksi nyata dalam menghadapi perubahan iklim dan kerusakan lingkungan.

Mengusung tema “Global Action for a Cooler Planet” atau “Aksi Global untuk Planet yang Lebih Sejuk”, peringatan Hari Ozon Sedunia tahun ini diwarnai aksi pemulihan lingkungan melalui penanaman pohon di kawasan Taman Hutan Raya Sultan Syarif Hasyim (Tahura SSH), Provinsi Riau.

Sebanyak sejumlah bibit pohon ditanam secara simbolis di kawasan tersebut pada Selasa, 1 September 2026. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat kesadaran bahwa perlindungan lingkungan membutuhkan tindakan konkret, termasuk memulihkan kawasan hutan yang mengalami degradasi.

Hari Ozon Sedunia diperingati setiap 16 September. Momentum tersebut menjadi pengingat pentingnya menjaga lapisan ozon sekaligus memperkuat langkah global menghadapi persoalan lingkungan dan perubahan iklim.

Direktur Eksekutif Belantara Foundation, Dr. Dolly Priatna, mengatakan aksi pemulihan hutan merupakan salah satu bentuk kontribusi nyata dalam menjaga lingkungan dan mendukung upaya pengurangan emisi gas rumah kaca.

“Dengan tema ‘Global Action for a Cooler Planet’, peringatan Hari Ozon Sedunia menjadi momentum penting untuk meningkatkan pemahaman seluruh elemen masyarakat, termasuk sektor swasta, tentang pentingnya berkolaborasi menjaga dan melindungi lingkungan,” ujar Dolly.

Menurutnya, langkah sederhana seperti memulihkan lahan terdegradasi dapat memberikan dampak jangka panjang terhadap lingkungan. Karena itu, keterlibatan masyarakat, pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi dan berbagai organisasi dinilai penting untuk memperkuat gerakan pelestarian lingkungan.

Dalam aksi di Tahura SSH, pohon yang ditanam antara lain kelat (Syzygium palembanicum), kandis (Garcinia parvifolia) dan balam (Palaquium hexandrum). Ketiganya merupakan jenis pohon yang tergolong langka dan perlu dilestarikan.

Kegiatan tersebut melibatkan Belantara Foundation, Resona Bank Ltd. dari Jepang, Kesatuan Pengelola Hutan Produksi (KPHP) Minas Tahura serta Kelompok Tani Hutan yang menjadi mitra Tahura SSH.

Penanaman pohon ini juga menjadi bagian dari program Forest Restoration Project: SDGs Together, yang diarahkan untuk mendukung pemulihan ekosistem hutan, penanganan perubahan iklim serta pencapaian target pembangunan berkelanjutan.

Dolly menegaskan, persoalan lingkungan tidak dapat diselesaikan oleh satu pihak. Kolaborasi multipihak diperlukan agar upaya menjaga lingkungan tidak berhenti pada kampanye, tetapi diwujudkan dalam kegiatan yang memberikan manfaat langsung.

Sementara itu, Kepala KPHP Minas Tahura, Sri Wilda Hasibuan, mengatakan Tahura Sultan Syarif Hasyim merupakan kawasan konservasi alam yang ditetapkan Menteri Kehutanan pada 1999 dengan luas lebih dari 6.000 hektare.

Namun, sebagian kawasan tersebut mengalami deforestasi dan degradasi akibat berbagai aktivitas ilegal, seperti perambahan lahan dan pembalakan liar.

Menurut Sri, kondisi tersebut menjadi tantangan dalam menjaga fungsi ekologis kawasan. Pemulihan hutan harus dilakukan secara berkelanjutan dengan melibatkan berbagai pihak.

“Kami terus menjaga dan memulihkan fungsi kawasan Tahura SSH melalui kegiatan perlindungan dan restorasi hutan. Upaya ini tentunya tidak bisa kami lakukan sendiri, namun perlu adanya kolaborasi dan kerja sama dengan berbagai pihak,” ujarnya.

Peringatan Hari Ozon Sedunia 2026 pun diharapkan tidak berhenti sebagai momentum seremonial. Aksi penanaman dan pemulihan hutan menjadi salah satu contoh bahwa pesan “Global Action for a Cooler Planet” dapat diterjemahkan menjadi gerakan nyata untuk menjaga lingkungan bagi generasi mendatang.

banner 970x250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *