JAKARTA, Catatan Jurnalist — Merespon keresahan masyarakat terkait persoalan antrean solar yang terjadi Sumatera Selatan, Anggota Komisi XII DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Yulian Gunhar, mendesak Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) segera mengevaluasi distribusi sekaligus menambah kuota BBM subsidi, khususnya Bio Solar dan Pertalite, di Sumatera Selatan.
Desakan itu disampaikan menyusul masih terjadinya antrean panjang di sejumlah SPBU, bahkan setelah viral seorang sopir truk meninggal dunia saat mengantre solar bersubsidi di SPBU Rejodadi, Sembawa, Kabupaten Banyuasin.
“Kami turut berduka atas meninggalnya seorang sopir saat mengantre solar. Apa pun penyebab medisnya nanti, peristiwa ini menjadi pengingat bahwa antrean BBM subsidi yang berlangsung berjam-jam tidak boleh terus dianggap sebagai hal yang normal,” kata Gunhar dalam keterangan tertulisnya kepada Catatanjurnalist.com, Rabu (08/07/2026).
Menurutnya, antrean Bio Solar di Sumatera Selatan merupakan persoalan yang telah berlangsung cukup lama. Selain dipengaruhi distribusi di lapangan, kondisi tersebut juga menunjukkan bahwa kuota yang tersedia tidak lagi sebanding dengan kebutuhan masyarakat. Karena itu, BPH Migas perlu memetakan SPBU yang mengalami kendala distribusi sekaligus mengevaluasi kembali alokasi BBM subsidi di Sumatera Selatan.
Berdasarkan data Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel, kuota Bio Solar Sumsel tahun 2026 sebesar 629.509 kiloliter (KL). Hingga 4 Juli 2026, realisasi penyaluran telah mencapai 315.603 KL. Dengan rata-rata konsumsi 2.430 KL per hari, kuota diperkirakan habis pada 3 Desember 2026.
Baca juga:
Ironisnya, menurut Gunhar, apabila jam operasional SPBU diperpanjang untuk mengurangi antrean, kuota justru diperkirakan habis lebih cepat, yakni sekitar 10 November 2026. Agar pasokan tetap aman hingga akhir tahun, Sumatera Selatan membutuhkan tambahan sekitar 437.400 KL Bio Solar.
“Ini menjadi dilema. Di satu sisi antrean harus diurai agar masyarakat tidak menunggu berjam-jam. Namun di sisi lain, jika penyaluran ditingkatkan tanpa penambahan kuota, stok justru akan lebih cepat habis. Karena itu pemerintah harus segera menyetujui penambahan kuota BBM subsidi bagi Sumatera Selatan,” ujarnya.
Gunhar menambahkan, kebutuhan BBM subsidi di Sumsel terus meningkat seiring tingginya aktivitas transportasi, logistik, pertanian, perkebunan, hingga pertambangan. Hal itu juga tercermin dari meningkatnya penyaluran Bio Solar di wilayah Sumatera Selatan.
Sebelumnya, Region Manager Retail Sales Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel menyampaikan rata-rata penyaluran Bio Solar yang sebelumnya sekitar 1,6 juta liter per hari meningkat menjadi sekitar 2,06 juta liter per hari pada Juli 2026. Peningkatan konsumsi tersebut, menurut Gunhar, menunjukkan bahwa kebutuhan masyarakat terus bertambah sehingga alokasi kuota perlu segera disesuaikan.
“Pemerintah jangan menunggu sampai masyarakat semakin kesulitan mendapatkan BBM subsidi. Antrean panjang yang terus berulang bukan hanya menghambat aktivitas ekonomi, tetapi juga menjadi beban bagi para sopir, petani, nelayan, dan pelaku usaha yang bergantung pada BBM subsidi,” tegas Gunhar.












