PALEMBANG, Catatan Jurnalist — Pemerintah mulai memperketat akses ke sejumlah kawasan konservasi setelah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melanda beberapa taman nasional. Sebanyak sembilan taman nasional diputuskan ditutup sementara, sementara beberapa kawasan lainnya hanya dibuka secara terbatas.
Kebijakan tersebut diambil bukan sekadar untuk membatasi aktivitas wisata maupun pendakian, tetapi sebagai langkah mengurangi risiko keselamatan pengunjung sekaligus menjaga konsentrasi sumber daya pemerintah dalam menghadapi karhutla.
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengatakan, kebakaran di kawasan taman nasional turut memperberat upaya pemadaman karena pemerintah harus membagi personel dan peralatan untuk menangani titik kebakaran di kawasan konservasi.
“Beberapa taman nasional kita juga terjadi karhutla dan menyulitkan kita melakukan pemadaman,” kata Raja Juli di Palembang, Senin (31/8/2026).
Ia menjelaskan, kondisi tersebut bahkan berdampak terhadap penggunaan armada helikopter water bombing. Sejumlah helikopter yang sebelumnya diprioritaskan untuk menangani karhutla di enam provinsi harus dikerahkan ke kawasan taman nasional yang mengalami kebakaran.
“Beberapa helikopter water bombing yang harusnya diprioritaskan di enam provinsi yang mengalami karhutla, namun karena ada kebakaran di taman nasional membuat heli ini juga di-deploy ke taman nasional untuk melakukan pemadaman,” ujarnya.
Untuk menekan risiko kebakaran sekaligus meningkatkan efektivitas penanganan, Kementerian Kehutanan menetapkan penutupan sementara di sembilan taman nasional.
Kawasan tersebut meliputi:
- Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BTS), khususnya jalur pendakian Gunung Semeru.
- Taman Nasional Kerinci Seblat.
- Taman Nasional Gunung Ciremai.
- Taman Nasional Tambora.
- Taman Nasional Manusela.
- Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya.
- Taman Nasional Gunung Gede Pangrango.
- Taman Nasional Gunung Leuser.
- Taman Nasional Lorentz pada jalur tertentu.
Selain penutupan, pemerintah juga menerapkan pembukaan terbatas di sejumlah kawasan konservasi dengan mempertimbangkan kondisi lapangan dan tingkat risiko kebakaran.
Kawasan yang diberlakukan pembukaan terbatas antara lain Taman Nasional Gunung Rinjani, Taman Nasional Gunung Merbabu, Suaka Margasatwa Dataran Tinggi Hyang atau Argopuro, serta Taman Nasional Gunung Halimun Salak.
Raja Juli mengatakan kebijakan tersebut selanjutnya akan dituangkan secara resmi melalui surat edaran. Pemerintah juga akan menyampaikan informasi kepada masyarakat agar kebijakan tersebut dapat dipahami dan dipatuhi.
Raja Juli menegaskan, penutupan kawasan bukan dimaksudkan untuk menghalangi masyarakat yang ingin berwisata maupun melakukan pendakian.
Keselamatan pengunjung menjadi salah satu pertimbangan utama, terutama ketika risiko kebakaran meningkat dan kemampuan pemerintah dalam melakukan pengendalian di lapangan harus terbagi.
Ia mencontohkan kondisi di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, khususnya Gunung Semeru. Sebelumnya, sekitar 170 pendaki sempat berada dalam kondisi berisiko di kawasan tersebut sebelum akhirnya berhasil dievakuasi.
“Penutupan ini bukan bermaksud untuk membatasi keinginan pendaki, tapi risiko sangat tinggi di TN BTS sehingga mengakibatkan 170-an pendaki yang terjebak namun bisa dievakuasi,” jelasnya.
Selain mengancam keselamatan pengunjung, karhutla di kawasan konservasi juga menyerap personel dan peralatan pemadaman yang seharusnya dapat difokuskan ke wilayah prioritas.
Menurut Raja Juli, kondisi tersebut berpotensi mengganggu konsentrasi pemerintah dalam menangani karhutla di enam provinsi yang saat ini menjadi prioritas.
“Upaya pemadamannya lumayan menyulitkan. Sekali lagi sangat mengganggu konsentrasi kita di enam provinsi prioritas. Oleh karena itu dilakukan penutupan secara sementara dan terbatas,” pungkas Raja Juli.









