Mengungkap “Caluk” Bumbu Penyedap Rasa Masakan Sungsang

BANYUASIN, Catatan Jurnalist — Sungsang merupakan daerah dari pesisir timur Bumi Sedulang Setudung, Sungsang ibukota dari Kecamatan Banyuasin II, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan.

Daerah ini tidak semua orang mengetahuinya, namun memiliki sejarah dan tradisi serta kearifan lokal yang unik serta menarik, terutama soal kuliniernya. Selain pempek udang ternyata ada “caluk” tarasi sebagai penyedap rasa makanan dan menambah nafsu makan masakan Sungsang.

‎Pada masanya, Sungsang merupakan sebuah Kampung yang berlokasi strategis di pantai timur Sumatera Selatan yang berbatasan langsung dengan laut Bangka Belitung.

‎Sungsang dikelilingi oleh perairan yang kaya akan sumber daya laut, yang menjadi sumber utama mata pencaharian  masyarakat yang masyoritas bekerja sebagai nelayan.

‎Salah satu potensi ekonomi yang dimiliki Sungsang adalah pengelolahan hasil laut nelayan yang difermatasikan menjadi caluk atau terasi.

Junaidi (60) salah satu nelayan yang di wawancarai catatanjurnalist.com mengatakan jika mereka sejak kecil sudah terbiasa ikut orang tua mereka ke laut.

“Kamek dari Kecik nian pacak melok kelaut sampe mak ini Ari, (kami dari kecil sudah bisa ikut melaut hingga sekarang) Terangnya.

‎”‎Caluk atau lebih di kenal dengan Sebutan Terasi udang yang di buat secara tradisional oleh masyarakat nelayan sungsang sejak Tahun 1940an yang mana waktu itu hanya untuk di konsumsi sendiri. ‎Lambat Laun seiring dengan semakin pesat dan bertambahnya penduduk Sungsang. Baru pada tahun 1970 terasi di produksi oleh para nelayan untuk di per jual belikan kepada pengepul yng mana oleh pengepul di kirim ke kota Palembang,” kta Junaidi.

‎Setelah tahun 1980 pengepul terasi udang sungsang mengirim ke Mentok (Bangka Belitung).

Untuk bahan pembuatan terasi di dapat dari hasil nelayan Jaring tuguk udang, baik yang mencari di bagan laut maupun di bagan pinggiran muara sungai sungsang.‎ ‎Bahan yang didapat dari hasil nelayan nuguk dengan menggunakan jaring tuguk.

Yuli tahu betul susahnya jadi nelayan. Meski telah bekerja keras, hasil yang diperoleh sering kali sangat minim. Suatu hari ia melirik usaha pengolahan terasi. Lewat bumbu penyedap beraroma tajam itu, ia mengubah nasibnya dan sejumlah nelayan di sekitarnya.

Aroma terasi udang yang menyengat tercium di seantero rumah Yuli.

Yuli bersama karyawannya tengah mengaduk adonan terasi di atas terpal besar. Karyawan lainnya menggiling olahan terasi atau memasok udang yang telah dicuci untuk ditumbuk. Semua orang tampak sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.

Bahan-bahan membuat terasi sangat sederhana dan mudah didapat terasi dicampur dengan cuka makan dan kecap asin serta pewarna makanan.

‎Guna campuran cuka makan ke bahan baku udang  adalah untuk menghilangkan bau, kecap asin berguna untuk mempersedap terasi sedangkan pewarna hanya untuk memperindah atau memberikan warna terasi yang khas.‎

‎Proses pengolahan terasi udang terdiri dari 10 tahap pembuatan yaitu penyortiran, pencucian, fermentasi, penjemuran tahap 1, penggilingan tahap 1, penjemuran tahap 2, penggilingan tahap 2, pencetakan, penjemuran tahap 3 dan pengemasan.‎

‎Usaha terasi pada jamannya sangat membantu perekonomian masyarakat nelayan pada waktunya akan tetapi sekarang sudah mulai menjadi usaha sampingan hanya sedikit yang mengandalkan usaha ini.‎

‎Namun disayangkan usaha mengelola terasi udang saat ini sedikit diminati oleh generasi muda sekarang, hanya segelintir orang yang mau menggeluti usaha terasi udang tersebut.

‎‎Laporan : Hamkah

banner 970x250

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *