Hampir Rp1 Miliar dari Dana Pribadi, H. Suriadi Bangun 3 Jembatan Asa Garuda untuk Anak Sekolah

BANYUASIN, Catatan Jurnalist Kepedulian terhadap keselamatan dan akses pendidikan mendorong tokoh masyarakat Desa Rimau Sungsang, Kecamatan Banyuasin II, Kabupaten Banyuasin, H. Suriadi, membangun Jembatan 3 Jembatan Asa Garuda secara mandiri dengan anggaran hampir Rp1 miliar.

Jembatan sepanjang sekitar 40 meter yang menghubungkan Desa Rimau Sungsang dan Desa Penugukan tersebut kini mulai difungsikan setelah diresmikan Ketua Umum DPN Tani Merdeka, Don Muzakir, Minggu (23/8/2026).

Pembangunan jembatan berawal dari keprihatinan H. Suriadi terhadap anak-anak yang selama ini harus menggunakan perahu untuk pergi ke sekolah. Kondisi tersebut dinilai berisiko karena sungai yang mereka lewati juga dikenal memiliki banyak buaya.

“Di dusun ini anak-anak yang akan ke sekolah masih memakai perahu. Saya khawatir terjadi sesuatu ketika mereka menyeberang sungai, karena di sungai ini banyak buaya,” ujar Suriadi.

Untuk mewujudkan pembangunan tersebut, Suriadi menggunakan dana pribadi yang bersumber dari hasil penjualan lahan serta mendapat dukungan dari anak-anaknya.

“Anggaran membangun jembatan ini berasal dari dana hasil menjual tanah sendiri. Kami menjual lahan dan mendapat bantuan dari anak saya. Alhamdulillah, sekarang sudah hampir selesai,” katanya.

Ketua Umum DPN Tani Merdeka, Don Muzakir, mengapresiasi langkah Suriadi yang rela mengeluarkan biaya dan tenaga pribadi demi kepentingan masyarakat.

Menurutnya, pembangunan Jembatan Asa Garuda merupakan contoh nyata bahwa masyarakat juga dapat mengambil peran dalam pembangunan tanpa harus selalu menunggu bantuan pemerintah.

“Ini inisiatif luar biasa. Kita berikan apresiasi kepada H. Suriadi karena berjuang mengeluarkan dana dan keringat pribadi untuk membantu pemerintah dan masyarakat beraktivitas,” ujar Don Muzakir.

Ia menilai keberadaan jembatan tersebut sangat berarti bagi anak-anak yang sebelumnya harus menggunakan perahu untuk menuju sekolah.

“Kita tidak hanya terus meminta kepada pemerintah, tetapi kita juga bisa berbuat untuk negara dan masyarakat. Ini contoh yang luar biasa,” katanya.

Don Muzakir juga menyebut H. Suriadi telah membangun tiga jembatan secara mandiri di wilayah tersebut. Ia berjanji akan menyampaikan kebutuhan pembangunan jembatan lainnya kepada pemerintah pusat agar dapat ikut diperjuangkan.

Foto : Ketua Fraksi Gerindra DPRD Banyuasin, Syarifuddin Bernai saat berdiskusi dengan Ketua Umum DPN Tani Merdeka, Don Muzakir

Sementara itu, Ketua Fraksi Gerindra DPRD Banyuasin, Syarifuddin Bernai, menyampaikan apresiasi atas kepedulian H. Suriadi terhadap masyarakat Desa Rimau Sungsang.

Menurutnya, pembangunan Jembatan Asa Garuda menunjukkan bahwa semangat gotong royong masih hidup di tengah masyarakat, bahkan ketika pemerintah sedang menghadapi keterbatasan dan efisiensi anggaran.

“Ini luar biasa sekali. Di tengah keterbatasan dan efisiensi saat ini, secara mandiri, ikhlas dan sukarela ada tokoh Desa Rimau Sungsang yang membangun jembatan untuk kepentingan umum,” kata Syarifuddin.

Ia menegaskan, pembangunan tersebut tidak bisa hanya dilihat dari nilai materialnya. Menurut Syarifuddin, ada kepentingan masyarakat yang jauh lebih besar di balik pembangunan jembatan dengan dana pribadi tersebut.

“Ini bukan hanya soal jembatan, tetapi soal kepedulian terhadap masyarakat. Ada anak-anak sekolah yang setiap hari membutuhkan akses ini. Kalau tidak ada jembatan, mereka harus menyeberang menggunakan perahu dan tentu ada risiko keselamatan yang harus mereka hadapi,” ujarnya.

Syarifuddin menilai keputusan H. Suriadi menggunakan dana pribadi untuk membangun fasilitas umum merupakan bentuk pengabdian yang patut diapresiasi.

“Bayangkan, hampir Rp1 miliar dikeluarkan dari dana pribadi untuk kepentingan masyarakat. Ini bentuk kepedulian yang nyata. Beliau tidak hanya berbicara tentang pembangunan, tetapi langsung turun tangan dan membangunnya,” katanya.

Menurutnya, apa yang dilakukan H. Suriadi seharusnya menjadi inspirasi bagi masyarakat yang memiliki kemampuan untuk ikut mengambil bagian dalam pembangunan di lingkungannya.

“Pembangunan daerah bukan hanya tanggung jawab pemerintah. Masyarakat juga punya ruang untuk berkontribusi sesuai dengan kemampuan masing-masing. Apa yang dilakukan H. Suriadi ini adalah contoh bagaimana masyarakat ikut hadir membantu menyelesaikan persoalan di daerah,” ungkapnya.

Syarifuddin juga menilai keberadaan jembatan tersebut akan memberikan dampak langsung terhadap aktivitas warga, mulai dari akses pendidikan, mobilitas masyarakat hingga aktivitas ekonomi.

“Jembatan ini membuka akses. Anak-anak bisa sekolah dengan lebih aman, masyarakat bisa beraktivitas lebih mudah dan hubungan antarwilayah menjadi lebih lancar. Jadi manfaatnya tidak hanya dirasakan hari ini, tetapi akan dirasakan masyarakat dalam jangka panjang,” jelasnya.

Ia berharap perhatian terhadap pembangunan infrastruktur dasar di wilayah-wilayah yang masih sulit dijangkau terus ditingkatkan. Menurutnya, masih terdapat sejumlah titik yang membutuhkan jembatan dan akses penghubung.

“Kita juga berharap pemerintah melihat kondisi ini. Apa yang sudah dilakukan masyarakat harus menjadi perhatian. Kalau masih ada titik-titik yang membutuhkan jembatan, tentu harus kita perjuangkan bersama agar akses masyarakat semakin terbuka,” katanya.

Syarifuddin menambahkan, pembangunan secara swadaya seperti yang dilakukan H. Suriadi tidak berarti pemerintah lepas tangan. Justru, menurutnya, kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat harus diperkuat.

“Jangan sampai karena masyarakat sudah membangun sendiri kemudian pemerintah merasa tidak perlu hadir. Justru ini harus menjadi pemicu agar pemerintah semakin hadir. Masyarakat sudah membuka jalan, pemerintah tinggal memperkuat dan melanjutkan pembangunan yang masih menjadi kebutuhan,” tegasnya.

Ia juga berharap semangat seperti H. Suriadi dapat muncul di wilayah lain di Banyuasin.

“Mudah-mudahan semakin banyak tokoh masyarakat yang memiliki kepedulian seperti H. Suriadi. Bukan berarti semua harus membangun jembatan, tetapi setiap orang bisa berkontribusi sesuai kemampuannya untuk kepentingan masyarakat,” tutur Syarifuddin.

Bagi Syarifuddin, Jembatan Asa Garuda menjadi gambaran bahwa pembangunan tidak selalu dimulai dari proyek besar. Kepedulian terhadap kebutuhan dasar masyarakat pun dapat menjadi bagian penting dari pembangunan daerah.

“Ini adalah contoh bahwa ketika ada kepedulian, ada kemauan, dan ada semangat untuk membantu masyarakat, sesuatu yang sebelumnya dianggap sulit bisa diwujudkan,” pungkasnya.

banner 970x250banner 970x250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *