MALAKA, Catatan Jurnalist – Di beranda terdepan Indonesia yang berbatasan langsung dengan Timor Leste, potret pendidikan masih jauh dari kata layak. Di Desa Raiulun, Kecamatan Malaka Timur, Kabupaten Malaka, sebanyak 16 siswa Sekolah Dasar terpaksa menimba ilmu di bangunan yang nyaris tak pantas disebut sekolah.
SD Nekto Kelas Jauh Ninma, demikian nama sekolah tersebut, berdiri dalam kondisi memprihatinkan. Bangunannya lebih menyerupai gubuk darurat. Dinding hanya berupa anyaman bambu yang telah lapuk di bagian depan dan belakang, sementara sisi kiri dan kanan dibiarkan terbuka tanpa sekat. Atap dari daun gewang pun penuh lubang, dan lantainya masih berupa tanah.
Satu-satunya tenaga pendidik di sekolah itu, Maria Goreti Ulu (41), merupakan guru sukarelawan yang telah mengabdikan diri lebih dari lima tahun. Ia mengungkapkan, proses belajar-mengajar kerap terhenti saat cuaca buruk.
“Kalau hujan deras, kami tidak bisa belajar. Air masuk dari atap dan dinding, anak-anak basah semua,” tutur Maria, Jumat (6/2/2026). Dalam kondisi tertentu, ia terpaksa memindahkan kegiatan belajar ke rumah pribadinya.

Saat ini, Maria mengajar 16 siswa dari berbagai jenjang kelas, mulai dari kelas I hingga kelas V, dengan rincian:
Kelas I: 4 siswa
Kelas II: 1 siswa
Kelas IV: 9 siswa
Kelas V: 2 siswa
Tanpa ruang kelas terpisah, seluruh siswa belajar bersama dalam satu gubuk. Maria harus membagi perhatian dan materi pelajaran secara bergantian agar tetap sesuai dengan kurikulum masing-masing tingkatan.
Keberadaan kelas jauh ini menjadi satu-satunya akses pendidikan bagi anak-anak di wilayah tersebut. Sekolah induk, SDI Ninma, berjarak sekitar 10 kilometer dari permukiman warga dengan kondisi jalan yang sulit dilalui, terutama bagi anak-anak usia sekolah dasar.
Maria menambahkan, potensi jumlah siswa sebenarnya bisa lebih banyak. Di wilayah itu terdapat sekitar 41 kepala keluarga.
“Kalau gedungnya layak, murid pasti bertambah,” ujarnya.
Ia juga menyebutkan bahwa pihak sekolah induk telah mengetahui kondisi bangunan dan sempat melakukan survei. Namun hingga awal 2026, pembangunan ruang kelas permanen belum juga terealisasi.
Di tengah segala keterbatasan, semangat belajar para siswa tak pernah padam. Mereka tetap tekun menyimak pelajaran dan mencatat di atas bangku kayu sederhana.
“Kami hanya ingin ruang kelas yang aman dan layak. Anak-anak di sini punya hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan,” pungkas Maria dengan nada lirih.
Laporan: Haman Hendrikus















