JAKARTA, Catatan Jurnalist — Gubernur Sumatera Selatan, Herman Deru, memaparkan strategi penguatan ekonomi daerah dalam Konferensi Nasional Pengembangan Ekonomi Daerah (KNPED) 2026 yang digelar Otoritas Jasa Keuangan di Balai Kartini, Jakarta, Senin (25/5/2026).
Dalam forum ekonomi nasional tersebut, Herman Deru menjadi satu-satunya gubernur dari Pulau Sumatera yang dipercaya tampil sebagai pembicara pada sesi Regional Voice bersama Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya Sugiarto, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi, dan Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak.
Dalam paparannya, Herman Deru menegaskan pembangunan ekonomi daerah harus dilakukan secara bertahap dengan menjaga stabilitas ekonomi sebagai fondasi utama pertumbuhan berkelanjutan.
Ia menjelaskan, pada periode awal kepemimpinannya, Pemerintah Provinsi Sumsel fokus membangun konektivitas antardaerah melalui pembangunan jalan produksi dan infrastruktur pendukung ekonomi guna memperlancar distribusi barang dan meningkatkan aktivitas ekonomi masyarakat.
“Setelah konektivitas antardaerah tersambung, kami fokus menjaga stabilitas ekonomi daerah, terutama pengendalian inflasi. Stabilitas ini penting untuk menjaga daya beli masyarakat dan iklim investasi,” ujar Herman Deru.
Menurutnya, keberhasilan pengendalian inflasi menjadi salah satu indikator penting dalam menjaga pertumbuhan ekonomi daerah. Inflasi Sumsel pada 2025 tercatat sebesar 2,91 persen year on year (yoy), yang dinilai mencerminkan stabilitas harga kebutuhan pokok dan keberhasilan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID).
Selain menjaga stabilitas harga, Pemprov Sumsel juga memperkuat sektor ketahanan pangan melalui program Gerakan Sumsel Mandiri Pangan (GSMP) yang dijalankan selaras dengan program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG).
Program tersebut tidak hanya diarahkan untuk memperkuat ketersediaan pangan, tetapi juga mendorong masyarakat menjadi lebih produktif dan mandiri secara ekonomi.
“Kami ingin masyarakat tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga mampu menghasilkan dan memiliki kemandirian ekonomi,” katanya.
Dalam mendukung pertumbuhan ekonomi daerah, Herman Deru juga menyoroti pentingnya pengembangan sumber daya manusia melalui program 100 Ribu Sultan Muda yang dijalankan bersama OJK dan sektor perbankan.
Program tersebut difokuskan untuk mencetak wirausaha muda berbasis kreativitas, digitalisasi, dan orientasi ekspor. Saat ini sekitar 9.800 anak muda telah tergabung dalam program tersebut dan sebagian di antaranya sudah mampu menembus pasar ekspor.
“Anak muda harus didorong menjadi pelaku usaha dan pejuang ekonomi, bukan hanya berorientasi menjadi pekerja,” tegasnya.
Herman Deru juga menyinggung potensi komoditas unggulan Sumsel, khususnya kopi, yang terus didorong peningkatan produktivitas dan nilai tambahnya agar mampu bersaing di pasar global.
Menurutnya, penguatan ekonomi daerah juga perlu ditopang hilirisasi komoditas unggulan, pengembangan pelabuhan distribusi, serta kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, dan lembaga keuangan.
Salah satu proyek strategis yang menjadi perhatian Pemprov Sumsel adalah pengembangan New Palembang Port Tanjung Carat yang ditargetkan mulai berjalan pada kuartal mendatang sebagai pusat distribusi dan penggerak ekonomi baru di Sumsel.
Sementara itu, Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi mengatakan pertumbuhan ekonomi nasional sangat dipengaruhi kekuatan ekonomi daerah sehingga diperlukan sinergi lintas sektor untuk memperkuat pembiayaan dan pengembangan sektor unggulan berbasis potensi lokal.
Senada dengan itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan pemerintah terus mendorong penguatan ekonomi daerah melalui penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR), digitalisasi ekonomi, hilirisasi industri, dan pengembangan SDM unggul.
Melalui forum tersebut, Sumatera Selatan menegaskan komitmennya menjadi salah satu pusat pertumbuhan ekonomi nasional dengan pembangunan yang inklusif, berdaya saing, dan berkelanjutan.













