WONOSOBO, Catatan Junalist — Lahan seluas 619,47 hektare di Kabupaten Wonosobo menjadi lokus program Horticulture Development in Dryland Areas Sector Project (HDDAP). Program yang diinisiasi oleh Kementerian Pertanian Republik Indonesia ini menerapkan modernisasi sistem pertanian yang berkelanjutan guna meningkatkan nilai tambah produksi.
Hal tersebut, disampaikan Bupati Wonosobo Afif Nurhidayat, pada acara Audiensi Koordinasi Lanjutan program Horticulture Development in Dryland Areas Sector Project (HDDAP), di Pendopo Selatan, Jumat (10/4/2026).
Bupati Afif, sapaan akrabnya, menyampaikan, penerapan program tersebut di Wonosobo diharapkan dapat memperlebar peluang bagi produk hortikultura Wonosobo untuk bersaing di pasar nasional maupun global.
Menurutnya, tantangan pertanian saat ini bukan hanya peningkatan produksi, melainkan juga pada kualitas, keamanan pangan, efisiensi, dan keberlanjutan. Sektor pertanian harus bertransformasi dari production-oriented menjadi value-oriented agriculture.
“Saat ini, standar pasar semakin tinggi, sehingga menuntut adanya penguatan sistem pengawasan serta penerapan standar mutu yang ketat, termasuk kompleksitas tantangan di wilayah, terutama karakteristik lahan kering yang dihadapkan pada keterbatasan air, degradasi lahan, serta dampak perubahan iklim,” bebernya.
Dalam konteks tersebut, imbuh bupati, program HDDAP dinilai sangat relevan karena secara langsung menyasar persoalan mendasar yang dihadapi petani.
Afif menekankan, keberhasilan program ini sangat bergantung pada sinergi lintas sektor, baik antara pemerintah pusat, daerah, serta pelaku lapangan.
Pemerintah Kabupaten Wonosobo pun menyatakan kesiapan penuh dalam mendukung pelaksanaan HDDAP, mulai dari penguatan kelembagaan petani hingga penyelarasan kebijakan daerah.
“Bagi kami, keberhasilan program ini harus tercermin dari meningkatnya kesejahteraan petani, bukan sekadar capaian administratif,” pungkasnya.
Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Ditjen Hortikultura Kementerian Pertanian RI, Muhammad Agung Sanusi, menjelaskan sejumlah tantangan utama yang dihadapi oleh sektor hortikultura di Indonesia. Di antaranya adalah rendahnya produktivitas dan daya saing disebabkan keterbatasan akses irigasi, jalan produksi, serta teknologi. Selain itu, potensi lahan kering yang mencapai sekitar 53 juta hektare atau 28,67 persen dari total lahan nasional belum dimanfaatkan secara optimal.
“Nilai tambah produk hortikultura kita juga masih rendah. Oleh karena itu, perlu strategi komprehensif yang tidak hanya meningkatkan produksi, tetapi juga memperkuat hilirisasi dan kelembagaan petani,” jelasnya.
Ia menjelaskan, strategi pengembangan HDDAP mencakup pengembangan klaster hortikultura berbasis kewilayahan, otimalisasi lahan kering, peningkatan nilai tambah melalui hilirisasi, dan penguatan kelembagaan petani.
Program ini menargetkan pengembangan klaster hortikultura seluas 10.000 hektare di Indonesia. Dari seluruh wilayah di Indonesia, hanya 13 kabupaten di 7 provinsi yang terpilih sebagai lokasi implementasi HDDAP. Di Provinsi Jawa Tengah, hanya dua daerah yang mendapatkan program ini, yakni Wonosobo dan Batang.
Di Wonosobo, pengembangan HDDAP difokuskan di dua komoditas utama, yakni kentang yang ditanam di lahan seluas 419,2 hektare di kawasan Dieng dan sekitarnya, serta salak yang ditanam di area seluas 200,25 hektare di Kecamatan Watumalang.
Ditambahkan, pada tahun ini, pihaknya telah menyiapkan sejumlah kegiatan strategis, antara lain fasilitasi benih kentang Granola L sebanyak 654.700 knol untuk pengembangan 65,47 hektare, penyiapan sarana produksi (saprodi) salak dan pengembangan bibit mandiri, pendampingan produksi dan penyusunan SOP budidaya, dan lainnya.(Red)














