JAKARTA, Catatan Jurnalist — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai tidak hanya berfokus pada pemenuhan gizi anak-anak Indonesia, tetapi juga mampu menjadi penggerak ekonomi masyarakat melalui pemberdayaan pelaku usaha, relawan, dan tenaga kerja lokal.
Hal itu disampaikan Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Gabungan Pengusaha Makan Bergizi Indonesia (GAPEMBI) Sumatera Selatan, Tri Yulia Rizki Ananda, yang menilai kehadiran GAPEMBI menjadi wadah bagi para pengusaha MBG untuk saling berbagi pengalaman, mencari solusi, serta memperkuat kolaborasi dalam menjalankan program pemerintah tersebut.
Menurut perempuan kelahiran Palembang, 21 Juli 1984 itu, GAPEMBI dibentuk sebagai respons atas berbagai persoalan yang dihadapi pelaku usaha MBG di lapangan.
“Awalnya GAPEMBI dibentuk karena banyak pengusaha MBG yang bingung ketika menghadapi kendala. Mereka tidak tahu harus mengadu ke mana atau mencari solusi kepada siapa. Karena itu GAPEMBI hadir sebagai wadah untuk saling membantu dan menguatkan,” ujar Rizki.
Sebelum aktif mengembangkan program MBG, Rizki telah menekuni usaha katering selama hampir dua dekade melalui usaha miliknya, Catering Tyra. Berbekal pengalaman tersebut, ia bergabung dalam program MBG sejak 2025 dengan keyakinan bahwa program tersebut mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, khususnya dalam upaya menekan angka stunting dan meningkatkan pemenuhan gizi anak.
Menurutnya, masih banyak anak-anak Indonesia yang membutuhkan perhatian serius terkait asupan gizi.
“Saat turun langsung ke lapangan, saya melihat masih ada anak-anak yang menganggap satu kotak susu kecil sebagai sesuatu yang mewah. Itu menunjukkan program ini memang sangat dibutuhkan,” katanya.
Selain mendukung peningkatan gizi, Rizki menilai keberadaan dapur MBG juga memberikan dampak ekonomi yang signifikan. Setiap dapur MBG melibatkan sekitar 47 relawan yang mayoritas merupakan ibu rumah tangga dari lingkungan sekitar.
Melalui keterlibatan tersebut, banyak keluarga yang mulai memperoleh tambahan penghasilan untuk membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari maupun biaya pendidikan anak.
“Program ini bukan hanya menyediakan makanan bergizi, tetapi juga membuka lapangan pekerjaan dan membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ungkapnya.
Rizki menjelaskan, setiap dapur MBG juga didukung tenaga profesional, mulai dari chef bersertifikat hingga ahli gizi yang bertugas memastikan kualitas makanan tetap sesuai standar.
Ia menegaskan seluruh proses produksi makanan menerapkan standar operasional prosedur (SOP), mulai dari kebersihan dapur, keamanan pangan, hingga proses distribusi kepada penerima manfaat. Setiap menu yang disiapkan juga melalui pemeriksaan sampel oleh ahli gizi sebelum didistribusikan.
Menurut Rizki, penerapan standar tersebut menjadi komitmen utama agar program MBG benar-benar menghadirkan makanan yang aman, sehat, dan bergizi bagi anak-anak Indonesia.
Ia berharap Program Makan Bergizi Gratis dapat terus berlanjut secara berkesinambungan karena dinilai memberikan manfaat besar, baik dalam meningkatkan kualitas gizi generasi muda maupun mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat melalui pemberdayaan pelaku usaha lokal.















