PALEMBANG, Catatan Jurnalist — Forum Komunikasi Pengemudi Sumatera Selatan Bersatu (FKPSSB) bersama sejumlah komunitas dan non komunitas pengemudi di Sumatera Selatan menggelar aksi damai mendesak Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru membatalkan kebijakan regulasi Penyaluran bahan bakar minyak (BBM).
Terpantau peserta mulai berkumpul pukul 09.00 WIB di Simpang Bandara arah Tanjung Api-Api, sebelum bergerak menuju Kantor Gubernur Sumatera Selatan sebagai titik utama kegiatan. Jumlah peserta diperkirakan mencapai ratusan orang, lengkap dengan mobil komando, kendaraan besar-kecil, motor, serta berbagai alat peraga seperti spanduk, banner, dan bendera.
Koordinator aksi Mustofa (FKPSSB), Teguh, dan Danny. dalam aksi tersebut, FKPSSB membawa empat tuntutan utama, yaitu:
- Membatalkan kebijakan Gubernur Sumsel yang dinilai tidak berpihak kepada pengemudi.
- Meminta ketersediaan solar subsidi 24 jam di setiap SPBU yang beroperasi 24 jam.
- Mendorong pemberantasan pungli dan premanisme di jalanan wilayah hukum Sumsel.
- Menuntut revisi Perwali No. 26/2019 terkait jam operasional mobil angkutan barang.
Koordinator aksi Mustofa menjelaskan bahwa pemicu utama aksi damai ini adalah kebijakan Gubernur Sumsel terkait pembatasan operasional BBM pada malam hari, yakni mulai pukul 22.00 WIB hingga 04.00 WIB. Menurutnya, kebijakan tersebut diterapkan tanpa adanya koordinasi dengan para pengemudi, sehingga menimbulkan keresahan dan berbagai dampak di lapangan.
“Aksi hari ini diikuti lebih dari 600 orang pengemudi. Aspirasi kami sudah diterima oleh perwakilan Gubernur, dan mereka menjadwalkan audiensi dengan batas waktu paling lama dua pekan,” ujar Mustofa.
Ia berharap audiensi tersebut dapat segera terlaksana dan menghasilkan keputusan yang berpihak pada para pengemudi. “Kami menginginkan kebijakan yang merugikan ini bisa dibatalkan. Para pengemudi berhak mendapatkan kejelasan, karena banyak dampak yang kami rasakan di lapangan,” tambahnya.
Mustofa juga menyampaikan bahwa FKPSSB menaungi 43 komunitas pengemudi dari berbagai wilayah di Sumatera Selatan yang ikut terlibat dalam perjuangan ini.
Laporan: Dede Sunarya












