Said Iqbal, Wajah Perlawanan Buruh Indonesia di Era Reformasi
JAKARTA | Catatan Jurnalist –– Nama Said Iqbal kembali menjadi sorotan publik setelah kerap melontarkan kritik keras terhadap sejumlah kebijakan Dedi Mulyadi. Figur yang dikenal vokal membela kaum buruh ini bukanlah sosok baru di panggung nasional. Jejak rekamnya panjang, penuh kontroversi, sekaligus sarat pengalaman.
Mengenal jejak Said Iqbal berarti menelusuri perjalanan panjang seorang intelektual yang memilih meninggalkan kenyamanan menara gading untuk berdiri di garis depan perjuangan kaum buruh. Dengan latar akademik kuat dan pengalaman lapangan yang panjang, Said Iqbal menjelma menjadi arsitek gerakan buruh nasional yang tak hanya lantang bersuara, tetapi juga piawai merumuskan strategi perubahan.
Ir. H. Said Iqbal, S.T., M.E., lahir di Jakarta pada 5 Juli 1968 dari keluarga berdarah Aceh—ayah asal Pidie dan ibu dari Meulaboh. Lulus dari SMA Negeri 51 Jakarta, ia menempuh pendidikan Teknik Mesin di Politeknik Universitas Indonesia, melanjutkan sarjana di Universitas Jayabaya, dan meraih gelar magister ekonomi dari Universitas Indonesia.
Kariernya dimulai pada 1992 di sebuah pabrik elektronik di Kabupaten Bekasi. Di sanalah Said Iqbal merasakan langsung kerasnya dunia industri dan problem klasik buruh, mulai dari upah hingga jam kerja. Pengalaman ini menjadi titik balik yang membawanya ke jalur perjuangan.
Arsitek Gerakan Buruh Nasional
Pasca tumbangnya Orde Baru, Said Iqbal ikut mendirikan Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI). Ia menjabat sebagai Sekretaris Jenderal di bawah kepemimpinan Thamrin pada tahun 1999-2006 dan terlibat aktif dalam pembahasan berbagai regulasi ketenagakerjaan.
Kemudian pada periode berikutnya hingga saat ini, Iqbal mendapat amanah sebagai presiden. Setelah kokoh di FSPMI dengan segala daya upayanya menyejahterakan buruh. Tercatat, proses penentuan upah buruh semakin membaik dari tahun ke tahun. Komponen Hidup Layak (KHL) menjadi poin utama dalam penentuan Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK) yang melibatkan tiga pihak: pemerintah, pengusaha dan buruh.
Peran Said Iqbal semakin terlihat ketika ia menjadi Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) yang mewadahi FSPMI, SPN, ASPEK Indonesia, FSPKEP, FSP Farkes, FSP PPMI, FSP ISI,FSP Pariwisata Ref, hingga PB PGRI. Tidak heran jika isu tentang pengangkatan guru honorer pun muncul dalam aksi-aksi buruh.
Puncaknya, pada 2012, Said Iqbal terpilih sebagai Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI). Di bawah komandonya, KSPI dikenal agresif menggelar aksi nasional—mulai dari mogok massal, penolakan sistem outsourcing, hingga demonstrasi besar menentang Undang-Undang Cipta Kerja. Ia bahkan kembali terpilih untuk masa jabatan ketiga pada 2022.
Panggung Internasional & Jalur Politik
Pada tahun 2013 lalu, Said Iqbal meraih penghargaan internasional sebagai Tokoh Buruh Terbaik Dunia, The Febe Elisabeth Velasquez Award oleh serikat pekerja Belanda, FNV. Penghargaan ini diberika bagi mereka, para aktivis buruh yang berjuang demi tegaknya hak-hak buruh di negara masing-masing. Dalam pemilihan itu, Said Iqbal menyisihkan 200 kandidat lainnya dari seluruh dunia berkat militansinya mengawal demokrasi dan kebebasan berserikat melalui FSPMI dan KSPI.
Said Iqbal juga tampil di level global sebagai anggota deputi badan pengurus International Labour Organization (ILO) periode 2021–2024, membawa suara buruh Indonesia ke forum dunia.
Langkah politiknya semakin tegas ketika pada 5 Oktober 2021 ia didapuk sebagai Presiden Partai Buruh. Ia menegaskan partainya tidak akan berkoalisi dengan partai pendukung Omnibus Law, memilih jalur politik independen demi konsistensi perjuangan.
Kritikus Kebijakan yang Tak Pernah Lunak
Dengan latar belakang panjang ini, kritik Said Iqbal terhadap kebijakan Dedi Mulyadi bukan sekadar opini spontan. Ia berbicara sebagai aktivis yang telah puluhan tahun berada di garis depan konflik industrial. Baginya, kebijakan pemerintah harus berpihak nyata pada pekerja, bukan sekadar retorika pembangunan.
Konsep yang di usung Said Iqbal dalam memperjuangkan nasib buruh adalah KLA (Konsep, Lobi, Aksi). Selain orator ulung, Said Iqbal juga jago menulis. Ia secara rutin menuliskan gagasannya tentang perjuangan buruh di Koran Perjoeangan, media cetak internal yang dimiliki FSPMI. Bukunya berjudul Gagasan Besar Serikat Buruh sudah diterbitkan. Jika tampil di televisi pun, Said Iqbal tidak lagi canggung saat harus berhadapan dengan lawan bicara yang berseberangan pendapat. Said Iqbal juga tak bicara omong kosong karena selalu didasari data-data.
Prestasi puncak Said Iqbal hingga saat ini adalah Gerakan HOSTUM (Hapus Outsourching dan Tolak Upah Murah) pada tahun 2012-2013. Gelombang protes dan mogok masal sempat menggejala secara nasional, sesuatu yang belum pernah terjadi pada masa sebelumnya.
Said Iqbal bersama gerakan sosial yang tergabung dalam Komite Aksi Jaminan Sosial (KAJS) berhasil menekan pemerintah dan parlemen pada waktu itu untuk mewujudkan Jaminan Kesehatan Nasional dan Jaminan Pensiun bagi buruh. Walaupun dalam taraf pelaksanaannya belum seperti yang diharapkan.
Dalam kari Politiknya Pada tanggal 5 Oktober 2021, Said Iqbal terpilih sebagai Presiden Partai Buruh hingga sekarang
Kehidupan Pribadi
Di balik kerasnya sikap di ruang publik, Said Iqbal pernah menjalani kehidupan keluarga bersama Ika Liviana Gumay hingga sang istri wafat pada 17 Juli 2019. Dari pernikahan tersebut, ia dikaruniai satu orang anak.
Dengan pengalaman lebih dari tiga dekade, Said Iqbal tetap menjadi tokoh sentral gerakan buruh dicintai pendukungnya, dikritik lawan-lawan politiknya, dan terus menjadi “durian runtuh” di setiap polemik kebijakan pemerintah.
Simak :
Profil Said Iqbal
Nama : Ir. H. Said Iqbal, S.T., M.E.
Tempat Tanggal Lahir : Jakarta, 5 Juli 1968
Pendidikan:
2003 – 2005
Magister Ekonomi, Universitas Indonesia
1992 – 1996
Sarjana Teknik Mesin, Universitas Jayabaya, Jakarta
1988 – 1991
D3 Teknik Mesin, Politeknik Universitas Indonesia (sekarang Politeknik Negeri Jakarta)
1985 – 1988
Sekolah Menengah Atas, Jakarta
Karir:
- Presiden Partai Buruh Indonesia, Tahun 2021 s/d sekarang
- Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI), Tahun 2012 s/d sekarang
- Presiden FSPMI, Tahun 2003 s/d 2012
- Anggota Dewan Pengupahan Nasional, Tahun 2004 s/d sekarang
- Anggota LKS Tripartit Nasional, Tahun 2004 s/d sekarang
- Wakil Presiden ASEAN Trade Union Council (ATUC), Tahun 2016 s/d sekarang
- Anggota General Council ITUC (International Trade Union Confederation), Tahun 2017 s/d sekarang
- Anggota Central Committee World Metalworkers’ Federation (IMF), Tahun 2010 s/d sekarang
- Delegasi Indonesia untuk Konferensi ILO (International Labour Organization), Tahun 2021 s/d 2024
- Penerima The Febe Elizabeth Velasquez Award sebagai Tokoh Buruh Terbaik Dunia, Tahun 2013
- Ketua Pimpinan Serikat Pekerja di perusahaan elektronik Bekasi, Tahun 1992 s/d 1999
By. Redaksi Catatan Jurnalist













