JAKARTA, Catatan Jurnalist — Dalam rangka memperingati International Women’s Day (IWD) yang diperingati setiap 8 Maret, Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) menggelar kegiatan media briefing bertema “Memberi untuk Menerima: Politik Reproduksi Sosial Perempuan untuk Peradaban Bangsa”, Jumat (6/3/2026).
Kegiatan ini menyoroti pentingnya peran perempuan pekerja yang tidak hanya berkontribusi di tempat kerja, tetapi juga dalam kerja-kerja reproduksi sosial yang menopang keberlangsungan kehidupan masyarakat serta perekonomian.
Dalam diskusi tersebut, hadir dua narasumber dari federasi anggota KSPI, yakni Teh Mundiah dari DPP FSPMI Bidang Perempuan dan Endang Wahyuningsih dari DPP FSP KEP Bidang Perempuan. Keduanya juga merupakan bagian dari Dewan Eksekutif Nasional (DEN) KSPI.
Para narasumber menekankan pentingnya penguatan peran perempuan pekerja sekaligus mendorong lahirnya kebijakan yang memberikan perlindungan nyata terhadap berbagai persoalan yang dihadapi perempuan di dunia kerja. Mulai dari diskriminasi, beban kerja ganda, hingga minimnya perlindungan terhadap kekerasan berbasis gender.
Media briefing tersebut dimoderatori oleh Dimas P. Wardhana, Sekretaris Jenderal KSPI Bidang Komunikasi dan Digital (Komdigi) yang juga menjabat sebagai Wakil Presiden FSP FARKES KSPI Bidang Hubungan Antar Lembaga. Dalam diskusi itu, ia memandu dialog yang menyoroti hubungan antara kerja produktif dan kerja reproduksi sosial yang selama ini banyak ditopang oleh perempuan.
Dalam kesempatan yang sama, KSPI kembali menegaskan pentingnya ratifikasi Konvensi ILO 190 oleh pemerintah Indonesia. Konvensi tersebut dinilai sebagai langkah penting untuk menghapus segala bentuk kekerasan dan pelecehan di dunia kerja.
KSPI menilai perempuan pekerja berhak mendapatkan ruang kerja yang aman, bermartabat, serta bebas dari diskriminasi dan kekerasan. Tanpa perlindungan yang memadai, partisipasi perempuan dalam pembangunan ekonomi dan sosial bangsa akan sulit terwujud secara optimal.
Peringatan International Women’s Day ini sekaligus menjadi pengingat bahwa perjuangan perempuan pekerja merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari upaya mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh buruh di Indonesia.
Laporan : Dimas











