BELU, Catatan Jurnalist – Pemerintah Kabupaten Belu bergerak cepat merespons video viral yang memperlihatkan guru dan siswa SDK Laninis, Desa Lawalutolus, Kecamatan Tasifeto Barat, menerjang derasnya arus sungai demi tetap mengikuti kegiatan belajar mengajar.
Wakil Bupati Belu, Vicente Hornai Gonsalves, langsung menginstruksikan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) untuk turun ke lapangan dan menangani persoalan tersebut secara serius. Instruksi itu menegaskan komitmen Pemkab Belu agar keselamatan dunia pendidikan tidak lagi dipertaruhkan.
Plt Kepala Dinas PUPR Kabupaten Belu, Ferdinand Hale Kin, ST, mengatakan pihaknya akan segera menerjunkan tim teknis dari Bidang Bina Marga untuk melakukan peninjauan langsung dan pengukuran di lokasi.
“Kami mendapat arahan langsung dari Pak Wakil Bupati. Besok (Rabu) tim akan turun ke lapangan untuk melihat kondisi riil serta melakukan pengukuran teknis,” ujar Ferdinand saat dikonfirmasi, Selasa (20/1/2026).
Menurut Ferdinand, hasil survei tersebut akan menjadi dasar pengusulan pembangunan infrastruktur penyeberangan ke pemerintah pusat. Pemkab Belu akan mengupayakan berbagai skema pendanaan, mulai dari Dana Alokasi Khusus (DAK), Inpres Jalan Daerah (IJD), hingga sumber pendanaan lain yang memungkinkan.
Perhatian publik terhadap kondisi SDK Laninis mencuat setelah beredar video yang memperlihatkan para guru membentuk rantaian manusia sambil menggandeng siswa untuk menyeberangi sungai yang meluap. Aksi tersebut dilakukan demi mencegah siswa hanyut terbawa arus saat musim hujan.
Salah satu guru, Matilda Soi, mengungkapkan bahwa kondisi ini menjadi tekanan psikologis bagi guru dan siswa. Untuk mencapai sekolah, mereka harus melewati dua sungai yang kerap meluap saat hujan deras.
“Setiap musim hujan kami diliputi rasa cemas. Kadang harus menunggu berjam-jam sampai air surut. Kami berharap pemerintah segera membangun jembatan agar anak-anak bisa sekolah dengan aman,” tutur Matilda.
Dukungan juga datang dari DPRD Kabupaten Belu. Anggota DPRD dari daerah pemilihan setempat, Sergio Natalino Kansi Putra, menilai peristiwa tersebut sebagai alarm keras bagi pemerintah daerah.
“Ini situasi yang sangat berbahaya. Keterbatasan anggaran tidak boleh dijadikan alasan untuk mengabaikan keselamatan guru dan siswa. Nyawa manusia adalah prioritas,” tegas Sergio.
Ia memastikan Komisi III DPRD Belu akan mendorong Pemkab untuk menyiapkan langkah darurat yang aman sembari memperjuangkan pendanaan dari pemerintah provinsi dan pusat.
“Kegiatan belajar mengajar tidak boleh lagi berlangsung dengan mempertaruhkan nyawa. Negara harus hadir,” pungkasnya.
Laporan : Haman Hendrikus














