JAKARTA, Catatan Jurnalist — Pernyataan dr Tirta soal kondisi kesehatan anak muda belakangan ini bukan sekadar sensasi di media sosial. Ia menyoroti pola hidup generasi muda yang dinilai perlahan merusak kesehatan ginjal tanpa disadari, karena gejalanya kerap muncul diam-diam di awal.
Menurutnya, sejumlah kebiasaan yang dianggap sepele justru menjadi faktor risiko utama kerusakan ginjal jangka panjang.
Salah satu yang paling sering ditemui adalah konsumsi minuman manis berlebihan. Teh manis, kopi gula aren, boba, hingga minuman kemasan kini menjadi konsumsi harian. Asupan gula berlebih bukan hanya meningkatkan risiko diabetes, tetapi juga memperberat kerja ginjal dan memicu kerusakan organ dalam jangka panjang.
Tak hanya itu, kebiasaan jarang minum air putih juga menjadi sorotan. Banyak anak muda mengaku lebih sering minum minuman manis dibanding air putih. Padahal, ginjal membutuhkan cukup cairan untuk membantu proses penyaringan racun dalam tubuh. Kurangnya asupan air membuat urin menjadi pekat dan meningkatkan risiko infeksi saluran kemih (ISK) hingga batu ginjal.
Kebiasaan lain yang dinilai berbahaya adalah sering menahan buang air kecil. Aktivitas kerja, nongkrong, atau sekadar malas ke toilet membuat bakteri lebih mudah berkembang. Jika terjadi berulang, infeksi dapat menjalar hingga ke ginjal.
Pola makan instan dan tinggi garam juga memperburuk keadaan. Mi instan, frozen food, dan fast food yang dikonsumsi rutin berisiko meningkatkan tekanan darah. Sementara hipertensi dikenal sebagai salah satu penyebab utama gagal ginjal.
Kurang tidur dan stres berkepanjangan turut memperparah kondisi. Begadang, konsumsi kafein berlebih, serta memaksakan tubuh tetap aktif saat lelah dapat mengganggu metabolisme dan mempercepat kerusakan organ, termasuk ginjal.
Ironisnya, banyak pasien baru memeriksakan diri ketika kondisi sudah cukup parah. Keluhan seperti nyeri saat buang air kecil, tubuh bengkak, badan lemas, hingga kadar kreatinin yang sudah tinggi kerap menjadi titik awal pemeriksaan medis. Padahal, kerusakan ginjal sering berkembang tanpa gejala berarti pada tahap awal.
Dr Tirta menegaskan, pernyataannya adalah bentuk peringatan agar generasi muda lebih peduli pada kesehatan sejak dini. Jika pola hidup ini terus dianggap normal, bukan tidak mungkin dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan angka pasien cuci darah usia produktif akan semakin meningkat.
Intinya, persoalan ini bukan soal anak muda lemah, melainkan gaya hidup yang perlahan menggerogoti kesehatan tanpa disadari.(Red)











