Asap Karhutla OKI Terbawa Angin ke Palembang, BPBD Ungkap Tiga Wilayah Sumber Asap

PALEMBANG, Catatan Jurnalist — Asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) disebut menjadi salah satu penyebab memburuknya kualitas udara di Kota Palembang.

Kepala Pelaksana BPBD Sumatera Selatan M Iqbal Alisyahbana mengatakan, pergerakan angin membawa asap dari sejumlah titik karhutla di OKI menuju wilayah perkotaan Palembang.

Beberapa wilayah yang disebut menjadi sumber asap antara lain Kecamatan Cengal, Tulung Selapan, dan Pangkalan Lampam.

“Kalau berdasarkan arah angin, asap kita banyak berasal dari OKI. Dari Cengal, Tulung Selapan, Pangkalan Lampam. Asap akibat kebakaran di sana yang dibawa angin itulah yang sampai ke Palembang,” ujar Iqbal.

Menurutnya, sejumlah titik karhutla di OKI masih menjadi perhatian satuan tugas (satgas) penanganan karhutla. Upaya pemadaman terus dilakukan untuk mencegah api meluas sekaligus mengurangi asap yang terbawa angin ke wilayah lain.

Iqbal menjelaskan, kondisi geografis Palembang sebagai wilayah dataran rendah turut memengaruhi pergerakan dan bertahannya asap di kawasan perkotaan.

“Palembang ini dataran rendah, apa yang disampaikan Pak Gubernur kemarin benar. Bahwa Palembang ini dataran rendah, sehingga terbawa angin asap ini masuk ke Palembang,” katanya.

Sementara itu, asap karhutla yang bergerak menuju Provinsi Jambi disebut berasal dari sumber yang berbeda.

Iqbal memastikan asap yang mengarah ke Jambi bukan dominan berasal dari titik karhutla di OKI. Asap tersebut lebih banyak berasal dari wilayah Musi Banyuasin (Muba) dan Banyuasin.

“Iya, asap dari Sumsel masuk ke Jambi. Tapi kalau ke Jambi lebih dari asap karhutla di Muba dan Banyuasin. Itu yang biasanya angin ke Jambi dari sana,” ungkapnya.

Iqbal mengatakan, kondisi kemarau yang sangat kering menjadi salah satu tantangan utama dalam penanganan karhutla di Sumsel. Petugas di lapangan juga menghadapi keterbatasan sumber air di sejumlah lokasi sehingga proses pemadaman menjadi lebih sulit.

“Penanganan kita sebenarnya sudah bagus, cuma karena kekeringannya ekstrem,” ujarnya.

Ia menyebut, persoalan karhutla tidak hanya terjadi di Sumsel. Sejumlah wilayah di berbagai negara juga menghadapi kebakaran akibat kondisi cuaca yang kering dan panas.

Meski demikian, BPBD Sumsel bersama satgas karhutla terus melakukan berbagai upaya pemadaman dan pencegahan agar kebakaran tidak meluas.

Iqbal juga membandingkan kondisi karhutla tahun ini dengan pola kejadian pada tahun-tahun sebelumnya. Menurutnya, peningkatan eskalasi kebakaran tahun ini terjadi lebih cepat.

“Kalau melihat tren dari 2015, penanganan kita sudah alhamdulillah. Cuma El Nino yang biasanya siklus empat tahun, ini lebih cepat. Biasanya September panas dan eskalasi naik, tapi tahun ini sudah mulai di Juli,” pungkasnya.

banner 970x250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *