PALEMBANG, Catatan Jurnalist — Aktivitas pembangunan Tower Bank Mandiri di Jalan Kapten A Rivai, Palembang, menuai keluhan dari warga RT 22, Kelurahan 24 Ilir, Kecamatan Bukit Kecil. Selain kebisingan saat proses pemancangan tiang pancang, proyek tersebut diduga menyebabkan keretakan pada belasan rumah warga yang berada di sekitar lokasi.
Ketua RT 22, Iwan, mengatakan gangguan paling dirasakan warga terjadi saat proses pemancangan fondasi pada awal pembangunan di tahun 2025. Getaran yang ditimbulkan tidak hanya mengganggu aktivitas masyarakat, tetapi juga diduga menjadi penyebab kerusakan sejumlah rumah.
“Pada saat pemancangan tiang pancang, warga sangat terganggu oleh kebisingan dan getaran. Sekarang suara sudah tidak ada lagi, tetapi kerusakan rumah warga hingga kini belum sepenuhnya diselesaikan,” ujar Iwan kepada awak media, Senin (13/7/2026).
Menurutnya, sedikitnya 16 rumah warga mengalami keretakan akibat aktivitas proyek. Bahkan jumlah rumah yang terdampak disebut terus bertambah. Hingga kini, warga mengaku belum menerima ganti rugi ataupun penyelesaian yang memuaskan dari pihak pelaksana proyek maupun pemilik bangunan.
Iwan mengungkapkan, pihak kontraktor, PT Adhi Karya, memang telah beberapa kali melakukan survei dan pendataan terhadap rumah-rumah yang mengalami kerusakan. Namun, tindak lanjut berupa perbaikan maupun kompensasi dinilai berjalan sangat lambat.
“Sampai sekarang belum ada penyelesaian yang tuntas. Kami sudah beberapa kali dipanggil untuk rapat. Terakhir pada Mei lalu dijanjikan akan segera ada perbaikan, tetapi setelah itu tidak ada perkembangan lagi. Sebagai Ketua RT saya sudah cukup lelah karena terus didatangi warga yang mempertanyakan kapan rumah mereka diperbaiki,” katanya.
Ia juga menyoroti lokasi proyek yang secara administrasi berada di wilayah Kelurahan Sungai Pangeran, sementara dampak terbesar justru dirasakan warga RT 22 Kelurahan 24 Ilir.
“Dalam setiap pertemuan saya selalu meminta pihak pelaksana menunjukkan warga Kelurahan Sungai Pangeran yang terdampak. Faktanya, yang paling banyak merasakan dampaknya adalah warga RT 22 Kelurahan 24 Ilir. Selain Kantor PLN, hampir seluruh dampak dirasakan warga kami,” tegasnya.
Setelah berbagai protes disampaikan warga, kata Iwan, dalam sepekan terakhir PT Adhi Karya mulai melakukan perbaikan terhadap empat rumah yang mengalami kerusakan.
“Baru sekitar satu minggu ini ada empat rumah yang mulai diperbaiki. Kami berharap rumah-rumah lainnya juga segera ditindaklanjuti,” ujarnya.

Di sisi lain, Project Engineering Manager PT Adhi Karya, Saif, memastikan perusahaan tidak mengabaikan keluhan warga dan siap bertanggung jawab atas kerusakan yang terbukti disebabkan oleh aktivitas proyek.
Menurut Saif, sejak awal pembangunan pihaknya telah melakukan identifikasi terhadap bangunan di sekitar lokasi proyek. Ia menjelaskan kondisi tanah di kawasan tersebut tergolong lunak sehingga berpotensi menimbulkan dampak terhadap bangunan di sekitarnya saat proses pekerjaan fondasi berlangsung.
“Kondisi tanah di lokasi memang cukup lunak. Karena itu sejak awal kami sudah melakukan pendataan rumah-rumah yang terdampak dan beberapa kali berkoordinasi dengan Ketua RT serta warga,” jelasnya.
Ia mengatakan, hingga saat ini empat rumah telah memasuki tahap perbaikan sesuai tingkat kerusakan yang ditemukan di lapangan. Namun penyelesaian terhadap seluruh rumah belum dapat dilakukan karena masih terdapat perbedaan kesepakatan mengenai bentuk dan nilai ganti rugi.
“Sebagian warga menginginkan ganti rugi dalam bentuk uang, sedangkan hasil perhitungan kami memiliki nominal tertentu. Sampai sekarang masih ada perbedaan nilai sehingga prosesnya masih menunggu kesepakatan bersama,” katanya.
Saif menegaskan PT Adhi Karya tetap berkomitmen memperbaiki seluruh kerusakan yang memang terbukti terdampak proyek pembangunan Tower Bank Mandiri. Namun, setiap bentuk kompensasi harus didasarkan pada hasil penilaian yang objektif dan dapat dipertanggungjawabkan.
“Kalau kerusakannya memang dinilai wajar akibat pekerjaan kami, tentu akan kami perbaiki atau ganti. Yang masih menjadi pembahasan adalah ketika nilai yang diajukan berbeda cukup jauh dengan hasil penilaian kami. Itu masih terus kami komunikasikan,” ujarnya.
Ia menambahkan, pembangunan Tower Bank Mandiri dimulai pada pertengahan 2025, sedangkan pekerjaan pemasangan fondasi berlangsung sekitar Agustus hingga September 2025. Saat ini perusahaan terus berupaya menyelesaikan persoalan bersama warga melalui jalur musyawarah agar seluruh pihak memperoleh solusi yang adil.















