PALEMBANG, Catatan Jurnalist — Ancaman Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menghantui Sumatra Selatan. Sepanjang tahun 2025, Dinas Kesehatan Provinsi Sumsel mencatat sedikitnya 4.130 kasus DBD tersebar di 17 kabupaten dan kota, dengan Case Fatality Rate (CFR) mencapai 0,54 persen.
Kota Palembang menjadi episentrum penularan dengan 934 kasus, disusul Kabupaten Muara Enim 526 kasus dan OKU Timur 406 kasus. Tingginya mobilitas penduduk dan kepadatan wilayah perkotaan diduga menjadi faktor pemicu melonjaknya kasus di ibu kota provinsi tersebut.
Namun, tingginya jumlah kasus tidak selalu berbanding lurus dengan tingkat kematian. Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Sumsel, Ira Primadesa, mengungkapkan bahwa angka kematian tertinggi justru terjadi di Musi Rawas Utara (Muratara).
“Total kasus DBD di Sumsel sepanjang 2025 mencapai 4.130 kasus. Tetapi jika dilihat dari persentase kematian, Muratara mencatat CFR tertinggi sebesar 2,86 persen,” ujar Ira, Selasa (13/1/2026).
Selain Muratara, daerah dengan tingkat fatalitas cukup tinggi tercatat di OKU Selatan sebesar 1,72 persen dan Kabupaten PALI mencapai 1,32 persen. Kondisi ini menunjukkan bahwa kesiapsiagaan layanan kesehatan dan kecepatan penanganan menjadi faktor krusial dalam menekan korban jiwa.
Ira menjelaskan, lonjakan kasus DBD sangat dipengaruhi oleh pola cuaca, terutama saat musim hujan. Puncak penularan terjadi pada Januari dengan 640 kasus, seiring tingginya curah hujan yang mempercepat perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti. Meski sempat menurun di pertengahan tahun, kasus kembali meningkat pada November dengan 413 kasus.
“Kasus DBD cenderung melonjak saat musim penghujan. Karena itu, kewaspadaan dini harus diperkuat, terutama di wilayah dengan mobilitas penduduk tinggi,” tegasnya.
Baca juga :
Di tengah tingginya ancaman, sejumlah daerah patut diapresiasi karena berhasil menekan angka kematian hingga nol persen, di antaranya Kabupaten OKU, OKI, dan Musi Banyuasin.
Dinkes Sumsel menegaskan bahwa fogging bukan solusi utama. Masyarakat diminta lebih disiplin menjalankan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) serta menerapkan pola hidup bersih dan sehat sebagai benteng utama pencegahan.
“Target kami jelas, nol kematian akibat DBD. Kuncinya ada pada konsistensi langkah preventif dari seluruh lapisan masyarakat,” pungkas Ira.(Red)












