OKI, Catatan Jurnalist — Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menghantui Sumatera Selatan. Sedikitnya dua hektare lahan gambut milik warga di Desa Pulau Geronggang, Kecamatan Pedamaran Timur, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), dilalap si jago merah pada Rabu (8/7/2026).
Kebakaran pertama kali terdeteksi melalui patroli udara. Api dengan cepat menjalar di atas lahan gambut yang dipenuhi semak belukar, belidang, tegakan gelam, purun, dan tanaman sawit. Karakteristik tanah gambut yang kering membuat proses pemadaman menjadi lebih sulit karena bara api dapat bertahan di bawah permukaan tanah.
Tim Manggala Agni Daops Sumatera XVII/OKI bergerak menuju lokasi dengan dukungan satu unit helikopter water bombing, kendaraan operasional roda empat, mini striker, serta peralatan pemadaman lainnya. Dua warga setempat turut membantu proses pemadaman. Hingga kini, api belum sepenuhnya berhasil dipadamkan.
Meski sekitar 0,5 hektare lahan berhasil dipadamkan, bara api masih ditemukan di sejumlah titik sehingga operasi pemadaman akan terus dilanjutkan guna mencegah kebakaran meluas.
Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan (Dalkarhut) Sumatera, Ferdian Krisnanto, mengatakan kondisi cuaca dalam beberapa hari ke depan diperkirakan semakin meningkatkan risiko terjadinya karhutla di Sumatera. Berdasarkan analisis Fine Fuel Moisture Code (FFMC) dari BMKG, tingkat kekeringan bahan bakar ringan di permukaan tanah telah memasuki kategori rawan.
“Ketika nilai FFMC berada pada kategori merah, sedikit saja ada sumber api, kebakaran dapat berkembang sangat cepat dan sulit dikendalikan,” ujar Ferdian.

Ia mengungkapkan, faktor manusia masih menjadi penyebab dominan munculnya kebakaran, baik karena pembukaan lahan dengan cara membakar, pembakaran sampah, maupun kelalaian seperti membuang puntung rokok di lahan gambut yang kering.
“Beberapa kasus yang terjadi di dekat permukiman diawali dari pembakaran sampah. Saat angin bertiup kencang, api melompat ke semak dan lahan gambut hingga akhirnya sulit dikendalikan,” katanya.
Untuk mengantisipasi meningkatnya ancaman karhutla, Dalkarhut Sumatera telah menambah personel di wilayah Indralaya serta meningkatkan frekuensi patroli di sejumlah kawasan yang memiliki tingkat kerawanan tinggi.
Sementara di Kabupaten OKI yang didominasi kawasan perkebunan dan hutan tanaman industri (HTI), koordinasi dengan perusahaan terus diperkuat. Informasi titik panas (hotspot) maupun temuan visual dari helikopter dan pesawat patroli langsung didistribusikan kepada perusahaan agar penanganan dapat dilakukan sejak dini.
“Perusahaan-perusahaan di OKI sudah memiliki Regu Pengendalian Kebakaran (RPK) yang telah kami latih. Dengan jejaring ini, respons terhadap titik api bisa dilakukan lebih cepat sebelum kebakaran meluas,” jelas Ferdian.
Ia juga menegaskan bahwa operasi pemadaman pada malam hari di wilayah OKI tidak menjadi pilihan utama karena mempertimbangkan faktor keselamatan petugas di lapangan.
“Pemadaman malam tidak kami sarankan untuk wilayah OKI. Keselamatan anggota adalah yang paling penting,” tegas Ferdian.
Dalkarhut Sumatera mengimbau masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar serta menghindari aktivitas yang berpotensi memicu api selama musim kemarau. Menurut Ferdian, ketika vegetasi kering, angin, dan sumber api bertemu, kebakaran akan sangat mudah terjadi dan cepat meluas.















