PALEMBANG, Catatan Jurnalist — Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai menghantui Sumatera Selatan memasuki musim kemarau 2026. Dampak fenomena El-Nino yang diprediksi membuat cuaca lebih panas dan kering memicu kekhawatiran meningkatnya titik api di sejumlah wilayah rawan terbakar.
Data sementara mencatat, sepanjang Januari hingga Mei 2026, luas lahan yang terbakar di Sumsel telah mencapai sekitar 100 hektare. Kebakaran didominasi lahan mineral milik warga yang tengah mengalami alih fungsi perkebunan.
Kepala Balai Pengendalian Perubahan Iklim dan Kebakaran Hutan dan Lahan Wilayah Sumatera, Ferdian Krisnanto, mengatakan mayoritas kebakaran terjadi di area perkebunan masyarakat yang sebelumnya ditanami karet.
“Sebagian besar lahan yang terbakar merupakan lahan mineral milik warga yang sedang beralih fungsi dari kebun karet ke komoditas lain,” ujar Ferdian, Sabtu (23/5/2026).
Beberapa daerah yang hingga kini masih tercatat rawan dan mengalami kebakaran lahan antara lain Kabupaten Muara Enim, Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), dan Musi Rawas.
Meski begitu, kondisi lahan gambut di Sumsel disebut masih relatif aman. Tingginya kadar air di sejumlah kawasan gambut dinilai mampu menekan risiko kebakaran besar seperti yang pernah terjadi pada tahun-tahun sebelumnya.
“Untuk lahan gambut saat ini masih aman karena kondisinya masih cukup basah dan tergenang air,” katanya.
Mengantisipasi ancaman karhutla yang diperkirakan meningkat saat puncak kemarau, tim Manggala Agni telah menyiapkan personel serta peralatan pemadaman untuk melakukan langkah pencegahan dan penanganan dini.
Petugas juga terus memantau kondisi kanal-kanal air di wilayah rawan guna memastikan ketersediaan sumber air tetap terjaga saat kebakaran terjadi.
Saat ini sebanyak 275 personel Manggala Agni disiagakan di wilayah Sumsel. Namun jika situasi memburuk dan kebakaran meluas, pemerintah akan mengerahkan tambahan personel dari berbagai daerah di Sumatera.
“Jika kondisi meningkat, total personel yang dapat dimobilisasi mencapai 1.074 orang,” jelas Ferdian.
Pemerintah turut mengingatkan masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara dibakar. Di tengah cuaca panas dan minim curah hujan, aktivitas pembakaran dinilai sangat berisiko memicu kebakaran besar yang sulit dikendalikan.











