Catatan Jurnalist — TIDAK semua orang dilahirkan dengan kesempatan yang sama. Ada yang sejak kecil tumbuh dalam keluarga serba berkecukupan, mendapatkan pendidikan terbaik, dan memiliki jalan hidup yang relatif lebih mudah. Namun, ada pula yang harus memulai semuanya dari bawah, berjuang sejak usia muda, bekerja keras untuk membantu keluarga, dan menjalani kehidupan dengan segala keterbatasan yang ada.
Tetapi hidup selalu memiliki cara sendiri untuk mengajarkan manusia tentang arti perjuangan.
Bagi mereka yang pernah merasakan sulitnya kehidupan, setiap keberhasilan biasanya memiliki cerita yang panjang. Ada keringat yang tidak terlihat, ada air mata yang mungkin tidak pernah diceritakan, ada kegagalan yang harus ditelan sendiri, dan ada keraguan yang harus dilawan dengan keyakinan.
Kisah semacam itu tergambar dalam perjalanan hidup Syarifuddin Bernai, Anggota DPRD Kabupaten Banyuasin.
Sebelum dikenal sebagai seorang pengusaha properti dan kemudian dipercaya masyarakat duduk di lembaga legislatif, Syarifuddin pernah menjalani kehidupan sebagai seorang kuli bangunan. Sebuah pekerjaan yang membutuhkan tenaga, ketekunan, dan daya tahan fisik yang tidak sedikit.
Di bawah terik matahari, ia bergelut dengan pasir, batu, semen, dan berbagai material bangunan. Tangannya akrab dengan pekerjaan kasar. Keringat menjadi bagian dari keseharian. Rasa lelah bukan sesuatu yang bisa dihindari, tetapi harus diterima sebagai bagian dari perjuangan untuk bertahan hidup.
Bagi sebagian orang, menjadi kuli bangunan mungkin hanya dipandang sebagai pekerjaan biasa. Namun, bagi Syarifuddin, pekerjaan tersebut justru menjadi salah satu sekolah kehidupan yang paling berharga.
Belajar tentang disiplin
Dari sana pula ia memahami bahwa sebuah hasil yang baik tidak pernah lahir secara instan. Sebuah bangunan yang berdiri kokoh membutuhkan fondasi yang kuat. Begitu pula dengan kehidupan. Kesuksesan membutuhkan dasar yang dibangun melalui pengalaman, kerja keras, kesabaran, dan keberanian menghadapi berbagai kegagalan.
Syarifuddin lahir di Pangkalan Balai pada 14 September 1978 dari keluarga petani sederhana. Lingkungan keluarga dan kehidupan yang dijalaninya sejak kecil membentuk cara pandangnya terhadap kehidupan.
Ia memahami bahwa hidup tidak selalu memberikan apa yang diinginkan. Kadang, seseorang harus mengambil apa yang tersedia, mengolahnya dengan kemampuan yang dimiliki, kemudian menjadikannya sebagai jalan untuk mencapai kehidupan yang lebih baik.
Karena itulah, sejak usia muda Syarifuddin memilih untuk tidak hanya menjadi penonton dalam perjalanan hidupnya sendiri. Ia turun langsung bekerja dan berusaha membantu perekonomian keluarga.
Tidak ada jalan pintas.
Tidak ada keberhasilan yang datang secara tiba-tiba.
Yang ada hanyalah kemauan untuk bekerja dan terus belajar dari setiap pengalaman.
Menjadi pekerja bangunan ternyata tidak hanya memberinya penghasilan. Lebih dari itu, pekerjaan tersebut membuka cara pandangnya terhadap dunia usaha. Ia mulai melihat bagaimana sebuah pekerjaan direncanakan, bagaimana proyek dijalankan, bagaimana orang bekerja sama, dan bagaimana sebuah peluang dapat tumbuh dari kebutuhan masyarakat.
Pengalaman membentuk keberanian
Ia mulai berpikir bahwa kehidupan tidak boleh berhenti pada keadaan yang sedang dijalani. Jika hari ini bekerja sebagai kuli bangunan, bukan berarti selamanya harus berada di posisi yang sama. Selama masih memiliki kemauan untuk belajar dan keberanian untuk mencoba, selalu ada kemungkinan untuk mengubah arah kehidupan.
Pemikiran itulah yang kemudian mendorong Syarifuddin untuk merintis usaha sendiri.
Tentu saja, perjalanan dari seorang pekerja menjadi pengusaha bukanlah perjalanan yang mudah. Dunia usaha memiliki tantangannya sendiri. Ada keputusan yang salah, ada risiko yang harus diambil, ada peluang yang tidak selalu berhasil, dan ada masa ketika seseorang harus menerima kenyataan bahwa usaha yang dibangun belum berjalan sesuai harapan.
Namun, pengalaman sebagai pekerja membuat Syarifuddin memahami satu hal penting: kegagalan bukan alasan untuk berhenti.
Kegagalan dan Proses Belajar
Perlahan, usaha yang dirintisnya mulai berkembang. Pengalaman yang sebelumnya diperoleh dari dunia kerja menjadi modal berharga untuk melangkah lebih jauh. Keberanian untuk mengambil peluang dan ketekunan dalam menjalankan usaha akhirnya membawa Syarifuddin menjadi seorang pengusaha properti yang dikenal di Banyuasin.
Di titik inilah perjalanan hidupnya menjadi menarik untuk dilihat.
Sebab, banyak orang ketika telah mencapai kesuksesan justru mulai menjauh dari masa lalunya. Mereka lupa dengan tempat dari mana mereka berasal. Mereka lupa dengan orang-orang yang pernah berjalan bersama. Mereka bahkan terkadang lupa dengan kerasnya kehidupan yang dahulu pernah mereka rasakan.
Namun, perjalanan Syarifuddin menunjukkan bahwa masa lalu tidak harus dilupakan.
Justru masa lalu dapat menjadi pengingat agar seseorang tidak kehilangan arah.
Pengalaman sebagai anak petani dan pernah bekerja sebagai kuli bangunan membuatnya memiliki kedekatan emosional dengan kehidupan masyarakat kecil. Ia mengetahui bahwa di luar sana masih banyak orang yang setiap hari harus bekerja keras hanya untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Ada buruh yang menunggu upah harian.
Ada petani yang bergantung pada hasil panen.
Ada pekerja informal yang pendapatannya tidak selalu pasti.
Ada pula anak-anak muda yang memiliki mimpi besar, tetapi terkadang terbentur keterbatasan ekonomi.
Mereka adalah kelompok masyarakat yang mungkin tidak selalu memiliki akses terhadap peluang yang sama.
Karena itu, ketika seseorang yang pernah berada di posisi tersebut kemudian memperoleh kesempatan untuk berada di ruang pengambilan kebijakan, pengalaman hidup menjadi sesuatu yang sangat penting.
Politik, dalam konteks ini, seharusnya tidak hanya dilihat sebagai perebutan jabatan atau kekuasaan. Politik juga dapat menjadi jalan pengabdian. Sebuah ruang untuk membawa suara masyarakat ke tempat yang lebih tinggi, sekaligus memperjuangkan kebijakan yang dapat memberikan manfaat bagi kehidupan orang banyak.
Keinginan untuk memberikan manfaat yang lebih luas kemudian membawa Syarifuddin terjun ke dunia politik.
Perjalanan tersebut akhirnya mengantarkannya dipercaya masyarakat menjadi Anggota DPRD Kabupaten Banyuasin.
Namun, menjadi anggota legislatif bukanlah akhir dari sebuah perjuangan. Justru di sinilah tanggung jawab yang lebih besar dimulai.
Duduk di kursi DPRD berarti membawa harapan masyarakat. Ada aspirasi yang harus diperjuangkan. Ada persoalan yang harus disuarakan. Ada kepentingan masyarakat yang harus dikawal agar tidak kalah oleh kepentingan kelompok tertentu.
Seseorang yang pernah merasakan kehidupan dari bawah seharusnya memiliki kepekaan yang lebih besar terhadap persoalan masyarakat.
Pengalaman hidup semestinya tidak berhenti menjadi cerita pribadi, tetapi harus menjadi energi untuk memperjuangkan perubahan.
Di sinilah perjalanan Syarifuddin Bernai memiliki makna yang lebih luas. Kisah hidupnya bukan hanya tentang perubahan status sosial dari seorang kuli bangunan menjadi pengusaha dan kemudian anggota DPRD.
Lebih dari itu, kisah tersebut berbicara tentang kesempatan kedua, keberanian untuk bermimpi, dan kemauan untuk mengubah keadaan.
Sebab, tidak semua orang memiliki titik awal yang sama. Tetapi setiap orang memiliki kesempatan untuk menentukan bagaimana ia akan melanjutkan perjalanan.
Ada orang yang lahir dalam kemudahan, tetapi gagal menjaga kesempatan.
Ada pula yang lahir dalam keterbatasan, tetapi mampu mengubah kesulitan menjadi kekuatan.
Perbedaan itu sering kali terletak pada cara seseorang menyikapi keadaan.
Syarifuddin memilih untuk tidak menyerah pada keadaan.
Ketika hidup memberinya pekerjaan sebagai kuli bangunan, ia menjalaninya dengan sungguh-sungguh. Ketika kesempatan menjadi pengusaha terbuka, ia berani mengambil risiko. Ketika masyarakat memberikan kepercayaan untuk menjadi wakil rakyat, ia menerima tanggung jawab tersebut sebagai bagian dari perjalanan pengabdian.
Dari sini kita dapat belajar bahwa kesuksesan bukanlah sebuah lompatan besar yang terjadi dalam satu malam. Kesuksesan lebih sering merupakan hasil dari langkah-langkah kecil yang dilakukan berulang kali.
Hari ini bekerja.
Besok belajar.
Lusa mencoba lagi.
Kemudian gagal.
Bangkit kembali.
Mencoba sekali lagi.
Begitulah kehidupan berjalan.
Perjalanan seseorang tidak selalu lurus. Ada jalan yang terjal, ada tikungan yang tidak terduga, bahkan ada masa ketika seseorang merasa tidak tahu harus melangkah ke mana. Namun, selama seseorang tidak berhenti bergerak, selalu ada kemungkinan untuk menemukan jalan baru.
Kisah Syarifuddin Bernai menjadi gambaran bahwa keterbatasan bukanlah hukuman seumur hidup. Keterbatasan adalah kondisi awal yang dapat diubah dengan kerja keras, keberanian, dan kemauan untuk terus belajar.
Tetapi ada satu hal yang jauh lebih penting dari sekadar keberhasilan pribadi.
Ketika seseorang telah berhasil keluar dari kesulitan, ia memiliki tanggung jawab moral untuk tidak melupakan mereka yang masih berada dalam kesulitan.
Kesuksesan seharusnya membuat seseorang semakin dekat dengan masyarakat, bukan semakin jauh.
Jabatan seharusnya membuat seseorang semakin rendah hati, bukan semakin tinggi hati.
Dan kekuasaan seharusnya menjadi alat untuk memberikan manfaat, bukan sekadar simbol kedudukan.
Jika prinsip itu dapat dijaga, maka perjalanan dari seorang kuli bangunan menuju kursi DPRD bukan hanya sebuah kisah sukses pribadi. Ia dapat menjadi contoh bahwa pengalaman hidup dapat menjadi modal untuk memahami masyarakat secara lebih nyata.
Pada akhirnya, perjalanan Syarifuddin Bernai mengajarkan bahwa seseorang tidak pernah bisa memilih dari keluarga mana ia dilahirkan atau seberapa sulit keadaan yang harus dihadapi ketika memulai kehidupan.
Namun, seseorang masih dapat memilih bagaimana ia akan menghadapi keadaan tersebut.
Apakah menyerah atau berjuang.
Apakah berhenti atau terus melangkah.
Apakah menjadikan kegagalan sebagai alasan untuk mundur atau menjadikannya sebagai pelajaran untuk bangkit.
Dari anak petani, menjadi kuli bangunan, kemudian merintis usaha hingga menjadi pengusaha properti, dan akhirnya dipercaya masyarakat menjadi anggota legislatif. Rangkaian perjalanan tersebut menunjukkan bahwa kehidupan selalu memberikan ruang bagi siapa saja yang mau berusaha.
Karena itu, kisah Syarifuddin Bernai bukan sekadar cerita tentang kesuksesan seorang individu. Ini adalah pengingat bahwa setiap orang memiliki kesempatan untuk menulis ulang perjalanan hidupnya.
Tidak peduli dari mana seseorang memulai.
Tidak peduli seberapa berat jalan yang harus dilalui.
Yang paling penting adalah kemauan untuk terus berjalan.
Sebab, pada akhirnya, ukuran keberhasilan bukan hanya tentang seberapa tinggi seseorang mampu mencapai puncak, tetapi juga tentang seberapa jauh ia mampu melihat ke bawah, mengingat dari mana ia berasal, dan kemudian menggunakan apa yang dimilikinya untuk memberi manfaat bagi orang lain.
Kesuksesan bukan tentang siapa yang memulai lebih dulu atau siapa yang memiliki modal lebih besar. Kesuksesan adalah tentang siapa yang mampu bertahan ketika keadaan menjadi sulit, siapa yang mau belajar ketika mengalami kegagalan, dan siapa yang tetap memiliki keberanian untuk melangkah ketika jalan di depan belum terlihat jelas.
Dari perjalanan panjang itulah, kita belajar bahwa tidak ada pekerjaan yang terlalu rendah untuk dijalani dengan kehormatan dan tidak ada mimpi yang terlalu tinggi untuk diperjuangkan.
Selama seseorang mau bekerja keras, menjaga ketekunan, berani mengambil kesempatan, dan tidak melupakan akar kehidupannya, maka selalu ada kemungkinan untuk mengubah sebuah cerita sederhana menjadi perjalanan yang luar biasa.
Dan mungkin, di situlah makna sesungguhnya dari perjalanan Syarifuddin Bernai: bahwa hidup bukan tentang seberapa sederhana kita memulai, melainkan tentang seberapa kuat kita bertahan, seberapa banyak yang kita pelajari, dan pada akhirnya seberapa besar manfaat yang mampu kita berikan kepada orang lain.













