PALEMBANG, Catatan Jurnalist — Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai memberikan dampak nyata terhadap aktivitas masyarakat di Sumatera Selatan. Bukan hanya mengganggu kesehatan, kondisi udara yang memburuk juga berdampak terhadap aktivitas dan pendapatan pekerja di sektor transportasi sungai.
Salah satunya dirasakan Hatta, pengemudi taksi air Sungai Musi di Palembang. Ia mengaku kabut asap membuat aktivitasnya di perairan menjadi lebih sulit karena jarak pandang berkurang secara signifikan.
“Tidak enaklah, banyak asap, susah bergerak,” ujar Hatta saat ditemui di kawasan perairan Sungai Musi.
Menurutnya, dalam kondisi kabut asap, jarak pandang di sungai hanya sekitar 50 meter. Kondisi tersebut membuat pengemudi taksi air harus lebih berhati-hati ketika melintas dan mengangkut penumpang.
“Jarak pandang tidak jauh, dekat. Sekitar 50 meter paling jauh,” katanya, Minggu (06/092026).
Hatta mengatakan, kondisi tersebut tidak hanya menyulitkan pergerakan, tetapi juga berpengaruh terhadap jumlah penumpang. Masyarakat yang biasanya menggunakan jasa taksi air untuk menyeberang menjadi lebih berhati-hati ketika kondisi sungai diselimuti asap.
“Yang jelas hari ini berkurang dari kemarin, sekitar 40 persenan. Jauh kurang, jauh berkurang,” ujarnya.
Selain persoalan pendapatan, kabut asap juga meningkatkan risiko keselamatan bagi pengguna transportasi sungai.
Hatta mengatakan pengemudi harus meningkatkan kewaspadaan karena jarak pandang yang pendek menyulitkan melihat keberadaan perahu lain yang melintas.
“Lebih waspada, kondisi semakin berisiko ketika terdapat perahu cepat atau speedboat yang melaju di kawasan sungai. Menurut Hatta, jarak pandang yang terbatas dapat membuat pengemudi kesulitan mengantisipasi pergerakan kapal lain,” ungkapnya.
“Jam lima sore itu yang paling pekat, sementara pada pagi hari, kondisi kabut juga dapat muncul, terutama sekitar pukul 04.00 hingga 05.00 WIB,” jelasnya.
Dampak kabut asap tidak hanya dirasakan para pengemudi taksi air. Sejumlah warga juga mulai mengeluhkan gangguan kesehatan seperti sakit tenggorokan, batuk, dan rasa tidak nyaman saat menghirup udara.
Berdasarkan data BPBD Sumatera Selatan, hingga 5 September 2026 pagi, terdeteksi 1.971 titik hotspot di Sumatera Selatan. Hotspot terbanyak berada di Banyuasin sebanyak 507 titik, Musi Banyuasin 475 titik, dan Ogan Komering Ilir 266 titik.
Kondisi kualitas udara di sejumlah wilayah juga berada pada level mengkhawatirkan. Di Palembang, ISPU PM2,5 tercatat 159 dan masuk kategori Tidak Sehat. Kondisi serupa juga tercatat di Ogan Ilir, Musi Banyuasin, Musi Rawas dan PALI.
Baca juga:
Kabut asap yang semakin meluas kini menjadi persoalan yang menyentuh berbagai sektor, mulai dari kesehatan masyarakat, aktivitas transportasi hingga pendapatan pekerja informal.
Pemerintah dan Satgas Karhutla terus melakukan upaya pemadaman melalui operasi darat maupun udara. Namun, masyarakat tetap diminta waspada dan mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk.
Catatan Jurnalist akan terus mengupdate perkembangan karhutla di wilayah Sumatera Selatan, termasuk kondisi hotspot, kualitas udara, dampak terhadap aktivitas dan ekonomi masyarakat, serta langkah penanganan yang dilakukan pemerintah dan Satgas Karhutla.









