LAHAT, Catatan Jurnalist — Pemerintah terus menggembar-gemborkan peningkatan mutu dan pemerataan pendidikan. Namun, di SDN 12 Kota Agung, Kabupaten Lahat, persoalan paling dasar justru belum terselesaikan: sekolah tidak memiliki toilet, sehingga siswa terpaksa buang air besar dan kecil ke kebun.
Ironisnya, dari enam ruang kelas yang tersedia, satu di antaranya harus dikorbankan menjadi kantor kepala sekolah dan ruang guru. Di tengah ambisi mencetak generasi unggul, fasilitas dasar untuk sekadar menjaga kebersihan dan kenyamanan siswa pun masih jauh dari layak.
Sekolah dasar yang seharusnya menjadi tempat aman dan layak bagi anak-anak untuk belajar itu bahkan tidak memiliki toilet.
Akibatnya, siswa-siswi yang hendak buang air besar (BAB) maupun kecil terpaksa harus menuju kebun di sekitar sekolah.
Kondisi tersebut terungkap saat Kepala SDN 12 Kota Agung, Patianah menyampaikan langsung persoalan fasilitas sekolah dalam pertemuan kepala sekolah se-Kecamatan Kota Agung di SDN 1 Kota Agung, Selasa (1/9/2026).
Dengan nada penuh harap, Patianah mengungkapkan kondisi yang selama ini dihadapi sekolah.
“Toilet kami tidak ada. Jadi siswa-siswi kalau mau buang air besar dan kecil itu ke kebun.” ungkapnya.
Persoalan tersebut bukan sekadar kekurangan fasilitas, tetapi menyangkut kelayakan lingkungan belajar dan kesehatan siswa.
Sekolah memang pernah berupaya membangun toilet darurat secara swadaya. Namun, fasilitas tersebut akhirnya tidak dapat digunakan karena sifatnya hanya sementara dan tidak didukung ketersediaan sumber air bersih.
Sekolah hanya memiliki enam ruang kelas. Karena tidak tersedia ruangan khusus untuk administrasi, satu ruang kelas terpaksa dialihfungsikan menjadi kantor kepala sekolah sekaligus ruang guru.
Dengan kondisi itu, ruang yang seharusnya digunakan anak-anak untuk belajar justru harus dikorbankan untuk kebutuhan administrasi sekolah.
“Selain dari ruang kelas, kami tidak punya apa-apa. Kami meminta perhatian pemerintah,” ujar Patianah.
Ia berharap jajaran Dinas Pendidikan Kabupaten Lahat tidak hanya menerima laporan di atas meja, tetapi turun langsung melihat kondisi sekolah.
Patianah juga meminta Kepala Dinas Pendidikan bersama Kabid Pembinaan SD meninjau SDN 12 Kota Agung agar persoalan fasilitas yang dihadapi sekolah dapat dilihat secara nyata.
Menanggapi keluhan tersebut, Kepala Dinas Pendidikan Lahat Niel Aldrin menyatakan pihaknya akan melakukan pendataan dan mengusulkan kebutuhan sekolah berdasarkan skala prioritas.
“Kami akan data dan usulkan secara bertahap, sesuai prioritas dan kemampuan anggaran daerah. Disdik Lahat tidak akan tutup mata terhadap kondisi seperti ini,” kata Niel.
Sementara itu, Kabid Pembinaan SD Arlan Darqomi meminta pihak sekolah segera menyiapkan proposal kebutuhan prioritas.
“Proposal itu nantinya kami jadikan dasar untuk mengusulkan ke Bupati dan Wakil Bupati,” jelas Arlan.
Sebab, persoalan toilet di sekolah dasar bukan kemewahan. Toilet adalah kebutuhan paling dasar dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang sehat, aman dan layak bagi anak.
Pertemuan itu dihadiri Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Lahat Niel Aldrin S.E., M.A.P., Kabid Pembinaan SD Arlan Darqomi M.Pd., Kasi Kurikulum Agus Firnandi M.M., serta sejumlah kepala sekolah lainnya.











