Pendidikan Dipertaruhkan di Sungai Deras, Guru dan Siswa Terjang Sungai Demi Sekolah

BELU, Catatan Jurnalist -– Video memilukan yang memperlihatkan guru dan siswa di Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT), mempertaruhkan nyawa demi menuntut ilmu viral di media sosial. Dalam rekaman tersebut, mereka terlihat nekat menerjang derasnya arus sungai tanpa jembatan, demi memastikan kegiatan belajar mengajar (KBM) tetap berlangsung.

Peristiwa itu terjadi di jalur menuju SDK Laninis, Desa Lawalutolus, Kecamatan Tasifeto Barat—wilayah perbatasan yang hingga kini masih terisolasi setiap musim penghujan akibat ketiadaan infrastruktur dasar. Sungai yang meluap berubah menjadi ancaman nyata bagi keselamatan guru dan anak-anak sekolah.

Dalam video yang beredar luas, para guru tampak membentuk rantaian manusia sambil berpegangan tangan, berusaha menahan derasnya arus agar siswa tidak terseret banjir. Aksi ini menuai simpati publik, namun sekaligus menjadi tamparan keras bagi pemerintah yang dinilai gagal menjamin hak dasar warga negara.

Guru SDK Laninis, Matilda Soi, membenarkan kondisi tersebut. Ia mengaku tekanan psikologis kerap menghantui para pendidik setiap musim hujan tiba.

“Setiap musim hujan kami stres. Ada dua sungai yang harus dilewati, kali besar dan kali kecil. Kadang kami harus menunggu berjam-jam sampai air surut. Tapi kalau tidak menyeberang, anak-anak tidak sekolah,” ujar Matilda kepada Catatan Jurnalist, Selasa (20/1).

Kondisi ini memicu kemarahan warganet. Banyak pihak mengecam lambannya pembangunan infrastruktur di wilayah perbatasan yang selama ini kerap dijadikan jargon pembangunan, namun minim realisasi di lapangan. Netizen mendesak Pemerintah Kabupaten Belu hingga pemerintah pusat segera turun tangan sebelum tragedi kemanusiaan terjadi.

Warga Desa Lawalutolus menilai pembangunan jembatan bukan lagi sekadar kebutuhan, melainkan soal keselamatan nyawa dan masa depan pendidikan anak-anak.

“Kami tidak minta yang mewah, hanya jembatan agar anak-anak bisa sekolah dengan aman,” harap Matilda.

Ironisnya, hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari dinas terkait mengenai rencana pembangunan jembatan di lokasi tersebut. Pembiaran yang berlarut-larut dinilai sebagai bentuk pengabaian negara terhadap warga di wilayah pinggiran.

Masyarakat kini berharap pemerintah tidak sekadar hadir saat video viral, tetapi benar-benar bertindak sebelum akses pendidikan berubah menjadi arena pertaruhan nyawa.

Laporan: Haman Hendrikus

banner 970x250

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *