JAKARTA, Catatan Jurnalist — Presiden Prabowo Subianto meminta seluruh jajaran Kabinet Merah Putih untuk tidak menggelar acara open house Idul Fitri 2026 secara berlebihan. Imbauan tersebut disampaikan sebagai bentuk empati terhadap korban bencana di wilayah Sumatra sekaligus upaya mendorong efisiensi di tengah situasi global yang belum stabil.
Arahan itu disampaikan Prabowo dalam Sidang Kabinet di Istana Negara, Jakarta Pusat, Jumat (13/3/2026).
“Kita juga harus memberi contoh, open house atau apa jangan terlalu mewah-mewahan,” kata Prabowo di hadapan para menteri.
Meski demikian, Presiden menegaskan bahwa kegiatan perayaan tidak perlu dihentikan sepenuhnya. Menurutnya, aktivitas masyarakat tetap penting untuk menjaga perputaran ekonomi nasional.
“Tapi kita juga jangan total menutup semua acara. Kalau semua dihentikan, ekonomi kita juga tidak berjalan,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Prabowo juga menyoroti kondisi geopolitik global, khususnya ketegangan di kawasan Timur Tengah yang berpotensi menimbulkan dampak ekonomi. Ia pun menginstruksikan seluruh kementerian dan lembaga untuk memperkuat efisiensi anggaran negara.
“Saya kira kita harus mengupayakan penghematan. Saya percaya dua atau tiga tahun ke depan kita akan sangat kuat, tapi tetap kita harus hemat konsumsi,” tegasnya.
Prabowo menekankan pentingnya menjaga defisit anggaran agar tidak semakin melebar. Bahkan, ia menargetkan ke depan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dapat mencapai kondisi balanced budget atau anggaran yang seimbang.
Selain penghematan belanja, pemerintah juga akan mengoptimalkan penutupan potensi kebocoran penerimaan negara. Salah satu langkah yang didorong adalah penguatan sistem GovTech, yakni integrasi digital antar kementerian dan lembaga yang diyakini dapat mengurangi kebocoran hingga sekitar 40 persen.
“Kalau sistem ini berjalan baik, kebocoran penerimaan negara bisa ditekan cukup besar,” ujarnya.
Prabowo juga menilai sejumlah kebijakan efisiensi seperti penerapan work from home (WFH) bagi aparatur sipil negara hingga pengaturan hari kerja dapat kembali dipertimbangkan. Selain menghemat konsumsi bahan bakar minyak (BBM), kebijakan tersebut juga dinilai mampu membantu mengurangi kemacetan di kota-kota besar.
Meski mengingatkan potensi dampak geopolitik global, Presiden meminta seluruh jajaran pemerintah tetap tenang namun tetap waspada terhadap berbagai kemungkinan.
“Kita tidak boleh panik, tapi juga tidak boleh lengah. Kita harus mempersiapkan diri untuk kemungkinan yang paling buruk. Kita berharap skenario terburuk tidak terjadi, tetapi banyak prediksi menyebut konflik di Timur Tengah bisa berlangsung panjang,” kata Prabowo.















