Riset Desa Wisata Digelar, Upaya Pulihkan Pariwisata Sumatera Barat Pascabencana

AGAM, Catatan Jurnalist Upaya pemulihan pascabencana alam yang melanda Sumatera Barat pada akhir 2025 masih menjadi pekerjaan besar. Sektor pariwisata yang menjadi salah satu tulang punggung perekonomian daerah turut terdampak signifikan. Sejumlah desa wisata dan kawasan potensial mengalami kerusakan akibat banjir dan longsor, sementara akses jalan menuju objek wisata masih dalam tahap perbaikan.

Berdasarkan pantauan tim catatan.jurnalis.com, jalur utama penghubung Padang–Bukittinggi hingga kini masih diperbaiki, sehingga memengaruhi mobilitas wisatawan.

Sebagai langkah pemulihan, Syarikat Institute menggelar Loka Karya Riset Pengembangan Desa Wisata Pasca Bencana berbasis potensi wilayah dan pemberdayaan masyarakat. Kegiatan ini berlangsung di Nagari Padang Laweh Malalo, Kecamatan Batipuh Selatan, Kabupaten Tanah Datar.

Kepala Syarikat Institute, Vero Stianda, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut berangkat dari inisiatif mahasiswa Program Studi Pariwisata ISI Padang Panjang yang memiliki kepedulian terhadap kondisi pariwisata daerah.

“Diskusi kami dengan para mahasiswa berkembang hingga melahirkan gagasan riset ini. Kami ingin menghadirkan perencanaan pengembangan desa wisata yang berbasis ilmiah dan berkelanjutan,” ujarnya.

Loka karya yang digelar selama enam hari, yakni 4, 5, 9, 10, 11, dan 12 April 2026, melibatkan berbagai pihak dari latar belakang berbeda. Selain Vero Stianda, kegiatan ini juga menghadirkan arsitek profesional Yulsi Munir serta akademisi pariwisata Rahmad Ramadhan sebagai fasilitator.

Tak hanya itu, dua kontributor internasional turut terlibat, yakni Ping-Hsiang Hsu dari Hubei University of Economics, China, dan Robert-Jan de Kort dari RJDK Architectuur Expertise Architecture, Belanda. Keduanya berperan dalam membantu analisis data penelitian.

Sebanyak 15 peserta dari berbagai perguruan tinggi, seperti Universitas Andalas, Universitas Negeri Padang, UIN Imam Bonjol, dan ISI Padang Panjang, turut ambil bagian dalam kegiatan ini.

Salah satu peserta, Tio Revaldo, menilai kegiatan ini sebagai bentuk respons nyata terhadap kondisi pariwisata Sumatera Barat saat ini.

“Kami memulai dari diskusi kecil hingga akhirnya sepakat melakukan riset. Pendekatan ilmiah diperlukan agar perencanaan pariwisata bisa lebih terarah, meskipun belum sempurna,” ungkapnya.

Fokus Kajian

Loka karya ini menitikberatkan pada sejumlah aspek penting, seperti potensi heritage, lanskap alam, budaya tak benda, pariwisata, serta ekonomi berkelanjutan.

Peserta dibagi ke dalam tiga kelompok riset. Kelompok pertama mengkaji lanskap dan warisan budaya tak benda, termasuk gastronomi, tradisi, mitigasi bencana lokal, serta budaya lisan. Kelompok kedua fokus pada heritage dan warisan budaya benda, seperti Rumah Gadang, bangunan tua, serta situs megalitikum di Nagari Padang Laweh Malalo. Sementara kelompok ketiga meneliti sektor pariwisata dan ekonomi, termasuk potensi UMKM lokal.

Hasil dari kegiatan ini diharapkan berupa karya ilmiah, proposal pengembangan desa wisata, serta buku yang akan diterbitkan sebagai referensi pengembangan pariwisata berkelanjutan di Sumatera Barat.

Laporan : Vero Esvobar

banner 970x250

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *