PALEMBANG — Catatan Jurnalist — Nahdlatul Ulama (NU) menapaki usia satu abad sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia yang konsisten berperan dalam menjaga keislaman, kebangsaan, dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Selama 100 tahun perjalanan sejarahnya, NU tidak hanya menjadi penjaga tradisi Islam Ahlussunnah wal Jama’ah, tetapi juga melahirkan banyak pemimpin bangsa di berbagai bidang.
Didirikan pada 31 Januari 1926, NU hadir sebagai respons ulama Nusantara terhadap dinamika keagamaan, sosial, dan politik saat itu. Sejak awal, NU menegaskan komitmennya pada Islam moderat, toleran, dan berakar kuat pada budaya lokal, sekaligus memiliki kepedulian besar terhadap masa depan bangsa.
Melahirkan Tokoh dan Pemimpin Bangsa
Dalam satu abad kiprahnya, NU telah melahirkan banyak tokoh nasional yang berkontribusi langsung dalam perjalanan sejarah Indonesia. Mulai dari ulama, negarawan, akademisi, hingga pejabat publik, kader NU tercatat mengisi posisi strategis di tingkat nasional maupun daerah.
Tokoh-tokoh NU dikenal tidak hanya memiliki kedalaman keilmuan agama, tetapi juga pemahaman kebangsaan yang kuat. Perpaduan antara nilai keislaman dan nasionalisme inilah yang menjadikan kader NU mampu tampil sebagai pemimpin yang moderat, inklusif, dan berorientasi pada persatuan.
Peringatan 1 Abad NU di Palembang, Doa Bersama dan Tasyakuran
Di Palembang Sumatera Selatan, memperingati hari lahir ke-100 tahun dengan menggelar doa bersama dan tasyakuran yang berlangsung khidmat di Rumah Dinas Wali Kota Palembang, Jalan Tasik No. 12A, Kamis (29/01/2026).
Peringatan satu abad organisasi Islam terbesar di Indonesia ini dihadiri para kiai, tokoh NU, serta perwakilan dinas dan staf ahli di bidang pemerintahan, sosial, dan kemasyarakatan. Suasana religius terasa kuat sejak awal acara, mencerminkan perjalanan panjang NU dalam menjaga tradisi keislaman dan kebangsaan.
Selain doa bersama, kegiatan juga dirangkaikan dengan pemberian penghargaan kepada para muassis dan perintis NU di Kota Palembang sebagai bentuk penghormatan atas jasa dan perjuangan mereka dalam membesarkan NU hingga mencapai usia satu abad.
Kegiatan ini menjadi momentum ini sebagai titik tolak untuk menyiapkan kader-kader muda NU yang berkualitas, berakhlak, dan bertanggung jawab, berlandaskan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jama’ah.
NU Mitra Strategis Pemerintah
Sementara itu, perwakilan staf WaliKota Palembang bidang pemerintahan sosial dan masyarakat Ahmad Zazuli dalam sambutannya menyampaikan ucapan selamat ulang tahun ke-100 kepada Nahdlatul Ulama. Ia berharap NU terus berperan aktif sebagai mitra strategis pemerintah daerah dalam menjaga persatuan, kerukunan, serta membangun kehidupan sosial dan keagamaan yang harmonis.
“NU memiliki peran besar dalam menjaga keseimbangan kehidupan berbangsa dan beragama. Sinergi antara ulama dan umara harus terus diperkuat,” ungkapnya.
Perkuat Silaturahmi Ulama dan Umara
Acara tasyakuran tidak hanya diisi dengan prosesi pemotongan tumpeng, tetapi juga menjadi ruang silaturahmi yang mempererat hubungan antara NU dan Pemerintah Kota Palembang. Kebersamaan tersebut mencerminkan sinergi ulama dan umara dalam menjaga nilai-nilai kebangsaan, keislaman, dan kearifan lokal.
Dalam kesempatan yang sama, Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) turut menyampaikan pesan penghargaan dan apresiasi kepada para muassis dan perintis NU. IPNU menegaskan komitmennya untuk melanjutkan estafet perjuangan para pendahulu dengan memperkuat peran pelajar NU sebagai generasi penerus yang berilmu, berakhlak, dan berkontribusi positif bagi agama dan bangsa.
Peringatan satu abad NU di Kota Palembang ini menjadi momentum refleksi sekaligus penguatan peran Nahdlatul Ulama dalam kehidupan keagamaan, sosial, dan kebangsaan, seiring komitmennya menjaga Islam yang rahmatan lil ‘alamin dan Indonesia yang damai.
Laporan : Dapites











