Surat Menteri Kebudayaan Buka Peluang Alih Kelola Benteng Kuto Besak

PALEMBANG, Catatan Jurnalist Terbitnya surat dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia terkait alih kelola benteng bersejarah menjadi angin segar bagi upaya revitalisasi cagar budaya di Indonesia, termasuk peluang pengelolaan Benteng Kuto Besak (BKB).

Surat bernomor 24/MK/KB.09.06/2026 yang ditandatangani Menteri Kebudayaan Fadli Zon membuka jalan bagi transformasi pengelolaan benteng dari administrasi militer ke ranah sipil berbasis pelestarian budaya.

Ketua Aliansi Masyarakat Peduli Cagar Budaya, Vebri Al Lintani, menilai kebijakan tersebut sebagai momentum penting untuk menghidupkan kembali fungsi BKB sebagai ruang publik dan pusat edukasi sejarah.

“Ini menjadi peluang besar agar Benteng Kuto Besak tidak lagi tertutup, tetapi bisa diakses publik sebagai pusat pembelajaran sejarah dan kebudayaan,” ujarnya, Senin (27/4/2026).

Foto : Ketua Aliansi Masyarakat Peduli Cagar Budaya, Vebri Al Lintani

Benteng Kuto Besak merupakan salah satu situs bersejarah paling ikonik di Palembang. Dibangun pada masa Kesultanan Palembang Darussalam oleh Sultan Muhammad Bahauddin pada 1780–1797, benteng ini menjadi satu-satunya benteng di Nusantara yang dibangun sepenuhnya oleh pribumi dan masih bertahan hingga kini.

Namun, selama puluhan tahun, pemanfaatan BKB sebagai destinasi wisata dan ruang publik dinilai belum optimal. Hal ini disebabkan status pengelolaan yang berada di bawah militer, yakni Kodam II/Sriwijaya, serta keberadaan sejumlah fasilitas seperti rumah sakit, asrama prajurit, dan institusi pendidikan di dalam kawasan benteng.

Selain itu, pembangunan gedung bertingkat di sekitar kawasan juga dinilai berpotensi mengganggu kelestarian situs cagar budaya yang dilindungi undang-undang.

Dengan adanya kebijakan alih kelola, diharapkan pengelolaan BKB dapat lebih terbuka dan terarah. Kementerian Kebudayaan dinilai memiliki kewenangan untuk menerapkan konsep pelestarian yang adaptif, termasuk pengembangan museum hidup, riset arkeologi, hingga pemanfaatan teknologi digital dalam penyajian sejarah.

Sejumlah contoh revitalisasi benteng di Indonesia menjadi referensi, seperti Benteng Vredeburg, Benteng Rotterdam, hingga Benteng Marlborough yang berhasil dikembangkan sebagai destinasi wisata edukatif.

Revitalisasi BKB juga diyakini akan memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat. Letaknya yang strategis di tepian Sungai Musi dan berdekatan dengan Jembatan Ampera dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai kawasan wisata terpadu berbasis sejarah dan budaya.

Pengembangan kawasan ini diperkirakan akan membuka peluang usaha baru bagi pelaku UMKM, pemandu wisata, serta industri kreatif lokal.

Masyarakat pun berharap langkah alih kelola ini dapat segera direalisasikan melalui perencanaan matang dan kolaborasi berbagai pihak, sehingga Benteng Kuto Besak tidak hanya menjadi simbol sejarah, tetapi juga menjadi pusat aktivitas budaya dan ekonomi baru di Sumatera Selatan.

banner 970x250

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Liputan Terkini