Tinjau Karhutla Muba, Herman Deru: Api Harus Dipadamkan Sejak Dini

MUSI BANYUASIN, Catatan Jurnalist Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru turun langsung memantau penanganan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Kali ini, ia meninjau lokasi Karhutla di Desa Tanjung Agung Timur, Kecamatan Lais, Kabupaten Musi Banyuasin (Muba), Sabtu (5/9/2026).

Peninjauan tersebut dilakukan untuk memastikan upaya pemadaman yang dilakukan Satuan Tugas (Satgas) Karhutla berjalan maksimal. Namun, bagi Herman Deru, pemadaman bukan satu-satunya kunci. Pencegahan sejak api masih kecil justru menjadi langkah paling penting.

Menurutnya, Karhutla harus ditangani secara cepat dan terintegrasi. Api yang terlambat ditangani akan semakin sulit dikendalikan dan membutuhkan sumber daya yang jauh lebih besar.

“Penyakit kita ini mungkin agak susah mengobatinya, makanya harus ada reward dan punishment. Kalau apinya masih kecil, kepedulian kita sudah ada dan masih bisa kita minimalisir. Tetapi kalau sudah besar, penanganannya menjadi jauh lebih sulit,” ujar Herman Deru.

Ia mencontohkan penanganan Karhutla dengan luasan sekitar 17 hektare yang sebelumnya membutuhkan pengerahan empat helikopter untuk melakukan water bombing.

Dengan kemampuan satu helikopter mencapai sekitar 30 sorti dalam sehari, empat helikopter tersebut dapat melakukan hingga 120 sorti. Namun, besarnya dukungan udara ternyata tidak serta-merta membuat seluruh area terbakar dapat dipadamkan.

Dari sekitar 17 hektare lahan yang terbakar, water bombing hanya mampu menangani sekitar 2,5 hektare. Sementara sekitar 15 hektare lainnya justru berhasil ditangani melalui kerja personel Satgas yang berada langsung di lapangan.

“Artinya, peran manusia, dalam hal ini Satgas yang bertugas di lapangan, sangat penting. Karena itu, baik pencegahan maupun penanggulangan harus dilakukan bersama-sama,” tegasnya.

Herman Deru juga menyoroti pentingnya keterlibatan masyarakat dalam mencegah Karhutla. Menurutnya, pemerintah tidak akan mampu bekerja sendiri tanpa dukungan masyarakat yang berada paling dekat dengan lokasi rawan kebakaran.

Ia meminta kepala desa dan camat menjadi ujung tombak dalam memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai bahaya serta dampak Karhutla.

“Kita harapkan keterlibatan masyarakat melalui simpul-simpul informal, Pak Kades, Pak Camat, itu selalu kita beritahu tentang dampak dari Karhutla ini,” katanya.

Persoalan lain yang masih menjadi perhatian adalah kebiasaan sebagian masyarakat membersihkan lahan dengan cara dibakar. Kebiasaan tersebut dinilai harus dihentikan secara bertahap melalui edukasi dan pendampingan.

Herman Deru mendorong Dinas Pertanian dan Perkebunan untuk memberikan solusi kepada masyarakat agar pembukaan maupun pembersihan lahan tidak lagi mengandalkan pembakaran.

“Saya yakin Dinas Pertanian dan Perkebunan dapat memberikan masukan agar habit itu dihilangkan. Kita harus memberikan pemahaman kepada masyarakat bahwa membersihkan lahan dengan cara membakar memiliki risiko besar, terutama ketika kondisi cuaca dan lahan sangat mudah terbakar,” jelasnya.

Menurutnya, penanganan Karhutla tidak bisa hanya mengandalkan helikopter, armada pemadam maupun personel Satgas ketika api sudah membesar. Pencegahan harus dilakukan sejak potensi kebakaran mulai muncul.

Karena itu, Herman Deru meminta sinergi pemerintah daerah, Satgas, aparat penegak hukum, dunia usaha hingga masyarakat terus diperkuat. Jangan menunggu api membesar baru bergerak, karena ketika Karhutla sudah meluas, biaya, tenaga dan risiko yang harus dikeluarkan juga semakin besar.

Pemerintah Provinsi Sumsel pun mendorong agar pola penanganan Karhutla tidak hanya berorientasi pada pemadaman, tetapi juga memperkuat sistem deteksi dini, edukasi masyarakat dan pencegahan di wilayah yang memiliki potensi kebakaran tinggi.

banner 970x250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *