SORONG, Catatan Jurnalist — Sebanyak 33 siswa-siswi Angkatan III Sekolah Alkitab Sorong (SAS) resmi ditamatkan dan diutus untuk melayani melalui Ibadah Penamatan dan Pengutusan yang digelar di Hotel Mariat, Kota Sorong, Papua Barat Daya, Rabu (27/5/2026).
Kegiatan yang diselenggarakan oleh lembaga pendidikan teologi Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) itu berlangsung penuh khidmat, sukacita, dan nuansa rohani. Para peserta, hamba Tuhan, keluarga, serta jemaat tampak mengikuti seluruh rangkaian ibadah dengan penuh antusias.
Suasana semakin haru saat para siswa-siswi menerima doa pengutusan sebagai tanda kesiapan mereka memasuki dunia pelayanan di tengah gereja dan masyarakat.
Prosesi penamatan dan pengutusan dipimpin Kepala Bidang Departemen Penggembalaan Majelis Pusat GPdI, Pdt. Johny Sumarauw, didampingi pengurus Majelis Daerah, para hamba Tuhan, dan guru Sekolah Alkitab Sorong.
Acara tersebut turut disaksikan Gubernur Papua Barat Daya, Elisa Kambu, unsur pemerintah daerah, orang tua siswa, serta tamu undangan lainnya.
Kepala Sekolah Alkitab Sorong GPdI, Pdt. Lukas Marani, S.Th., yang juga Ketua Majelis Daerah GPdI Provinsi Papua Barat Daya, mengatakan penamatan ini bukan sekadar akhir dari proses pendidikan, melainkan awal perjalanan pelayanan dan pengabdian kepada Tuhan.
“Hari ini bukan sekadar akhir dari proses pendidikan, tetapi merupakan awal dari perjalanan pelayanan dan pengabdian kepada Tuhan,” ujarnya.
Ia menuturkan selama menjalani pendidikan, para siswa tidak hanya dibekali pengetahuan Alkitab, tetapi juga pembentukan karakter, disiplin, kesetiaan, dan kehidupan rohani.
“Puji syukur kita panjatkan kepada Tuhan Yesus Kepala Gereja karena oleh kasih dan penyertaan-Nya kita dapat berkumpul dalam acara penamatan siswa-siswi Angkatan III Sekolah Alkitab Sorong dalam keadaan sehat dan penuh sukacita,” katanya.
Menurut Lukas, perjalanan pendidikan yang dijalani para siswa tidak selalu mudah. Berbagai proses, pengorbanan, air mata, perjuangan, dan tantangan telah dilalui hingga akhirnya mencapai tahap penamatan.
Ia juga menyampaikan apresiasi dan rasa bangga kepada seluruh siswa-siswi Angkatan III agar terus menjaga panggilan Tuhan dalam kehidupan mereka.
“Dunia membutuhkan pelayan-pelayan Tuhan yang tidak hanya pandai berbicara, tetapi juga hidup dalam kasih, kerendahan hati, integritas, dan kebenaran Firman Tuhan,” ungkapnya.
Selain itu, ia menyampaikan terima kasih kepada para orang tua, keluarga, guru, pembina, dan seluruh staf yang telah mendukung proses pendidikan para siswa hingga selesai.
Lukas berharap para lulusan dapat menjadi terang dan garam dunia di mana pun mereka melayani.
“Jangan takut menghadapi tantangan pelayanan, sebab Tuhan yang memanggil juga Tuhan yang akan memperlengkapi,” pesannya.
Gubernur Papua Barat Daya, Elisa Kambu, dalam sambutannya mengatakan momentum penamatan dan pengutusan tersebut merupakan awal dari panggilan pelayanan bagi para siswa-siswi.
Menurutnya, para lulusan memiliki tanggung jawab besar untuk menjadi terang dan garam di tengah kehidupan masyarakat.
“Atas nama Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya, saya menyampaikan apresiasi dan penghargaan setinggi-tingginya kepada seluruh pimpinan, tenaga pengajar, dan keluarga besar Sekolah Alkitab Sorong yang telah mengambil bagian penting dalam membina dan mempersiapkan generasi pelayan Tuhan yang beriman dan berintegritas,” ujarnya.
Elisa menilai Papua Barat Daya membutuhkan generasi muda rohani yang mampu menjadi teladan dalam kasih, persatuan, kejujuran, serta membawa pesan damai di tengah keberagaman.
Menurutnya, lulusan Sekolah Alkitab Sorong diharapkan tidak hanya kuat secara spiritual, tetapi juga mampu menjadi agen perubahan sosial, menjaga kerukunan umat beragama, dan mendukung pembangunan daerah.
“Pemerintah Papua Barat Daya menyadari bahwa gereja memiliki peran strategis dalam pembangunan karakter masyarakat. Karena itu, sinergi antara pemerintah dan lembaga keagamaan harus terus diperkuat,” katanya.
Ia juga berpesan agar para siswa memiliki hati yang rendah, teguh dalam iman, dan menjadi pelayan Tuhan yang melayani dengan kasih Kristus.
Diketahui, siswa-siswi yang mengikuti penamatan dan pengutusan terdiri dari kelas I, kelas II, dan kelas eksekutif dengan total 33 orang. Rinciannya, kelas I sebanyak 15 siswa, kelas II sebanyak 8 siswa, dan kelas eksekutif sebanyak 10 siswa.
Acara ditutup dengan doa bersama dan sesi foto bersama seluruh peserta serta tamu undangan.














