SORONG, Catatan Jurnalist — Duka mendalam menyelimuti Persekutuan Mahasiswa Kabupaten Yahukimo (PMKY) Kota Studi Sorong. Salah satu anggota terbaiknya, Aliance Bomse, mahasiswi Universitas Kristen Papua (UKIP) Fakultas Teologi Program Studi PAK Semester II, telah berpulang untuk selamanya.
Aliance menghembuskan napas terakhir pada Selasa, 3 Februari 2026, pukul 16.19 WIT di Wamena, dalam usia 19 tahun. Putri kelahiran 5 Agustus 2006 di Distrik Kono, Kabupaten Yahukimo, Provinsi Papua Pegunungan itu meninggalkan kesunyian yang dalam—bukan hanya di bangku kuliah, tetapi juga di ruang-ruang organisasi dan persahabatan.
Sekretaris PMKY Kota Studi Sorong, Yutinus Senik, mengungkapkan bahwa sakit yang diderita Aliance mulai dirasakan sejak 9 Desember 2025 saat berada di kontrakan Asrama Yahukimo di Kota Sorong. Seiring waktu, kondisinya terus memburuk.
“Aliance sempat kami bawa ke RSUD Sele Be Solu Sorong untuk mendapatkan perawatan medis, namun saat itu tidak ditangani dengan alasan tidak memiliki kartu BPJS Kesehatan,” jelas Yutinus. Karena kondisi tersebut, Aliance terpaksa dibawa kembali ke kontrakan.
Upaya tidak berhenti di situ. Aliance kemudian dibawa ke puskesmas setempat. Dari hasil pemeriksaan medis, ia didiagnosis mengalami gangguan saraf dan lambung. Obat-obatan diberikan sesuai resep dokter, namun kondisinya tidak menunjukkan perbaikan.
“Dua hari kemudian sakitnya semakin parah. Kami kembali membawa Aliance ke RSUD Sele Be Solu, dan kali ini ia mendapat penanganan intensif berupa cairan infus selama empat hari,” tambah Yutinus kepada catatanjurnalist.com.
Berbagai ikhtiar telah dilakukan oleh PMKY dan rekan-rekannya demi mendapatkan hak perawatan medis bagi Aliance. Namun harapan itu belum terwujud sepenuhnya. Pihak keluarga kemudian meminta agar Aliance dipulangkan ke Wamena melalui jalur transit Sorong–Jayapura–Wamena untuk mendapatkan penanganan lanjutan.
“Setibanya di Wamena, Aliance dijemput keluarga dan dibawa ke Asrama Kono. Dua hari kemudian ia dirawat di RSUD Wamena. Namun setelah satu minggu dua hari, kami menerima kabar duka bahwa Aliance telah berpulang,” tutur Yutinus dengan nada berat.
PMKY mengenang Aliance sebagai anggota aktif yang resmi diterima melalui PMB PMKY 2025, memiliki sertifikat sah sebagai mahasiswa Kabupaten Yahukimo di Kota Sorong. “Kami sangat kehilangan. Keluarga besar PMKY menyampaikan turut berdukacita yang sedalam-dalamnya,” ujarnya.
Kesedihan serupa diungkapkan Etha Elopore, sahabat sekaligus rekan seperjuangan Aliance di Sorong. Dengan suara bergetar, ia menggambarkan sosok Aliance sebagai pribadi sederhana dan penuh ketulusan.
“Dia rajin kerja, rajin beribadah, tidak banyak bicara, tapi selalu dengar-dengaran. Rasanya sakit sekali kehilangan dia. Kami satu kampus, hanya beda jurusan,” ungkap Etha.
Menurut Etha, kepergian Aliance meninggalkan kekecewaan dan luka bagi teman-teman seperjuangan di Sorong. Masa depan yang masih panjang seakan terhenti begitu saja. “Tapi kami percaya, hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan,” katanya lirih.
Pagi-pagi di kampus kini terasa berbeda. Bangku-bangku kuliah masih tersusun rapi, namun satu kursi tak lagi terisi. Aliance Bomse—mahasiswi yang dikenal pendiam, tekun, dan ramah—telah pergi untuk selamanya.
Ia bukan sekadar nama di daftar hadir. Ia adalah pendengar yang setia, sahabat yang hadir tanpa banyak kata, dan pribadi yang tak pernah merepotkan orang lain. Kepergiannya menyisakan keheningan, air mata, dan kenangan yang akan terus hidup di hati mereka yang pernah berjalan bersamanya.
Nama Aliance mungkin tak lagi dipanggil dosen di ruang kelas atau terdengar dalam forum organisasi. Namun jejak kebaikan dan ketulusannya akan selalu dikenang.
Selamat jalan, Aliance Bomse. Doa kami menyertaimu. Semoga keluarga dan sahabat yang ditinggalkan diberi kekuatan menghadapi kehilangan ini.
Laporan: Eskop Wisabla















