Aksi Bakar Lilin di Aimas, SAKTP Tuntut Keadilan atas Pembunuhan Cristina Ewit Syufi

SORONG, Catatan Jurnalist Duka dan tuntutan keadilan menyatu dalam aksi bakar lilin yang digelar Solidaritas Anti Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak (SAKTP) Sorong Raya, sebagai respons atas kasus pembunuhan tragis Cristina Ewit Syufi. Aksi berlangsung di depan Gereja Katolik Paroki Santo Bernardus Aimas, Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya, Sabtu dini hari (31/1/2026).

Puluhan peserta menyalakan lilin dan menggelar doa bersama di kawasan Alun-alun Aimas. Lilin-lilin yang menyala menjadi simbol duka mendalam sekaligus perlawanan terhadap kekerasan berbasis gender yang masih marak terjadi, khususnya di wilayah Sorong Raya.

Koordinator Solidaritas, Melan Ije, menyatakan bahwa aksi ini bukan sekadar seremoni, melainkan bentuk perawatan ingatan kolektif atas kekerasan yang merenggut nyawa Cristina.

“Pembunuhan terhadap Cristina adalah puncak dari akumulasi kekerasan berbasis gender. Ia dibunuh di depan gereja, bahkan saat menggendong anaknya. Ini bukan peristiwa biasa, ini tragedi kemanusiaan,” tegas Melan.

Menurutnya, tingginya angka kekerasan terhadap perempuan dan anak di Tanah Papua tidak lepas dari sistem budaya patriarki yang masih mendiskreditkan perempuan. Karena itu, perubahan cara berpikir dan kesadaran kolektif menjadi kunci utama.

“Kita harus berkumpul, berdiskusi, dan membangun gerakan bersama. Aksi bakar lilin ini adalah awal kampanye anti kekerasan terhadap perempuan dan anak di kota ini,” ujarnya.

Melan menambahkan, nyala lilin yang menyertai doa bersama menjadi simbol semangat bersama untuk terus mengawal kasus ini hingga tuntas.

“Di tengah lilin-lilin yang menyala ini, kita membangun kesadaran dan literasi berbasis keadilan. Kasus ini harus dikawal sampai pelaku diproses hukum seberat-beratnya,” katanya.

SAKTP secara tegas mendesak aparat penegak hukum untuk segera mengusut tuntas kasus pembunuhan Cristina Ewit Syufi dan memberikan hukuman setimpal kepada pelaku.

“Kami hanya ingin keadilan. Jangan sampai kasus ini menghilang tanpa kejelasan. Cristina berhak mendapatkan keadilan,” tegas perwakilan solidaritas.

Aksi tersebut juga menjadi seruan moral agar kekerasan terhadap perempuan dan anak dihentikan. Tragedi ini dinilai harus menjadi perhatian serius semua pihak, terutama dalam memperkuat perlindungan perempuan serta penegakan hukum yang adil dan berperspektif korban.

Hingga kini, pihak keluarga korban masih menantikan perkembangan resmi dari aparat terkait proses penyelidikan dan penanganan hukum kasus tersebut.

Laporan: Eskop Wisabla

banner 970x250

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *