Banyuwangi Jadi Percontohan Nasional Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat

BANYUWANGI, Catatan Jurnalist — Pemerintah terus mendorong pengelolaan sampah berbasis masyarakat dan ekonomi sirkular sebagai bagian dari transformasi sistem persampahan nasional. Banyuwangi menjadi salah satu daerah yang dinilai berhasil mengembangkan pengelolaan sampah secara terintegrasi dari tingkat rumah tangga hingga fasilitas pengolahan.

Hal tersebut disampaikan Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan saat mengunjungi TPS 3R Balak, Kecamatan Songgon, Banyuwangi, Jawa Timur, Kamis (20/8/2026).

Menurut Zulkifli, pengelolaan sampah di Banyuwangi layak menjadi contoh karena melibatkan masyarakat sekaligus mendapat dukungan dari berbagai pihak dan mitra internasional.

“Jadi, Banyuwangi ini termasuk yang pengolahan sampahnya terbaik. Maka dari itu, banyak penyerahan bantuan dari berbagai pihak, termasuk Austria, Norwegia, dan United Arab Emirates (UAE), karena dianggap pengelolaan sampahnya termasuk yang bagus,” ujar Zulkifli Hasan.

Program Banyuwangi Hijau merupakan pengembangan kolaborasi pengelolaan sampah yang telah berjalan sejak 2018 melalui Project STOP di Kecamatan Muncar. Program tersebut kemudian diperluas dengan dukungan sejumlah mitra internasional.

Pada fase pertama dan kedua, Austria dan Norwegia turut mendukung pembangunan infrastruktur persampahan, termasuk TPST Balak yang memiliki kapasitas pengolahan hingga 80 ton sampah per hari.

Memasuki fase ketiga pada 2024, dukungan pendanaan dari United Arab Emirates (UAE) diarahkan untuk memperkuat sistem pengelolaan sampah dari hulu hingga hilir.

Penguatan tersebut mencakup edukasi masyarakat, pemilahan sampah dari sumber, penyediaan sarana, pengangkutan sampah terpilah, hingga pengolahan untuk meningkatkan pemanfaatan material sekaligus mengurangi sampah residu.

Dukungan terhadap sistem pengelolaan tersebut juga ditandai dengan penyerahan 44 kendaraan operasional. Armada itu terdiri dari 21 tricycle, 16 kendaraan pick-up, dua armroll truck dan lima container truck.

Kendaraan tersebut nantinya digunakan untuk memperkuat proses pengumpulan dan pengangkutan sampah dari rumah warga menuju fasilitas pengolahan.

Konsep Banyuwangi Hijau menempatkan sampah bukan sekadar limbah yang harus dibuang, tetapi sebagai sumber daya yang masih dapat dipilah, diolah dan dimanfaatkan kembali.

Pendekatan berbasis masyarakat ini dinilai cocok diterapkan di daerah dengan timbulan sampah kecil hingga menengah karena proses pengelolaan dilakukan sejak dari sumbernya.

Namun, untuk kawasan perkotaan dengan produksi sampah dalam jumlah besar, pemerintah menilai dibutuhkan sistem dan teknologi dengan skala pengolahan yang lebih tinggi.

Salah satu opsi yang didorong adalah Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL), khususnya bagi kota yang memiliki timbulan sampah lebih dari 1.000 ton per hari.

Melalui kolaborasi pemerintah, masyarakat dan mitra pembangunan, Banyuwangi ditargetkan mampu mencapai cakupan layanan persampahan 100 persen pada 2028 atau bahkan lebih cepat.

Target tersebut diharapkan semakin memperkuat posisi Banyuwangi sebagai salah satu daerah percontohan nasional dalam membangun sistem pengelolaan sampah yang terintegrasi, berkelanjutan dan berbasis ekonomi sirkular.

Kegiatan yang dihadiri Wakil Bupati Banyuwangi Mujiono, jajaran Pemerintah Kabupaten Banyuwangi serta sejumlah mitra Program Banyuwangi Hijau, termasuk Systemiq Lestari Indonesia juga Menko Pangan  Zulkifli Hasan juga menyaksikan serah terima sejumlah aset pendukung pengelolaan persampahan.

*Rilis Menko Bidang Pangan RI

banner 970x250banner 970x250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *