PALEMBANG, Catatan Jurnalist – Di tengah derasnya arus informasi digital yang tanpa batas, Generasi Z (Gen Z) menghadapi berbagai tantangan mulai dari penyebaran disinformasi, intoleransi, hingga krisis identitas. Kondisi tersebut mendorong pentingnya penguatan karakter generasi muda melalui nilai-nilai keagamaan yang moderat dan berlandaskan ajaran Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja).
Hal itu disampaikan Wali Kota Palembang, Ratu Dewa, saat membuka Seminar Nasional bertema “Meneladani Sejarah NU Kota Palembang untuk Memperkuat Identitas Aswaja Gen Z” yang digelar oleh Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) di Rumah Dinas Wali Kota Palembang, Rabu (24/6/2026).
Dalam sambutannya, Ratu Dewa mengapresiasi IPNU dan IPPNU yang dinilai konsisten menghadirkan ruang intelektual dan pendidikan karakter bagi kalangan pelajar serta generasi muda.
“Kegiatan seperti ini sangat penting. Pemuda hari ini tidak hanya dituntut unggul secara akademik, tetapi juga harus memiliki kepekaan sosial, daya kritis, serta karakter kepemimpinan yang kuat,” ujarnya.
Menurut Ratu Dewa, Pemerintah Kota Palembang memandang IPNU dan IPPNU sebagai mitra strategis dalam pembangunan sumber daya manusia. Sinergi tersebut dinilai penting untuk mencetak generasi muda yang religius, moderat, cerdas, serta memiliki semangat kebangsaan yang kuat.
Ia juga mengingatkan bahwa Kota Palembang memiliki sejarah panjang dalam perkembangan Nahdlatul Ulama, terutama di bidang pendidikan, dakwah, dan pembinaan umat. Karena itu, jejak perjuangan para ulama harus terus dikenalkan kepada generasi muda sebagai sumber inspirasi dan keteladanan.
Sebagai bekal menghadapi tantangan zaman, Ratu Dewa mengajak Gen Z untuk mengimplementasikan empat pilar utama ajaran Aswaja, yakni Tawasuth (moderat), Tasamuh (toleran), Tawazun (seimbang), dan I’tidal (adil).
“Nilai-nilai Aswaja sangat relevan dengan kehidupan modern. Tidak hanya menjadi pedoman dalam beragama, tetapi juga menjadi fondasi dalam membangun kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara yang harmonis,” katanya.
Ia berharap seminar tersebut tidak hanya menjadi forum akademik yang membahas sejarah, tetapi juga mampu melahirkan gagasan dan strategi konkret dalam memperkuat literasi keagamaan serta memanfaatkan media digital untuk menyebarluaskan nilai-nilai Islam yang moderat.
“Kita ingin generasi muda Palembang mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi, namun tetap kokoh memegang teguh nilai agama dan kebangsaan,” tambahnya.
Sementara itu, Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Palembang, Abdul Malik Syafei, menilai tantangan terbesar yang dihadapi Gen Z saat ini berasal dari media sosial yang rentan memunculkan polarisasi dan ujaran kebencian.
“Tantangan terbesar kita saat ini adalah media sosial. Jika tidak dibentengi dengan pemahaman yang baik, generasi muda bisa terseret dalam arus informasi yang menyesatkan,” ujarnya.
Malik menegaskan bahwa sejarah telah membuktikan perubahan besar selalu melibatkan peran anak muda. Ia mencontohkan perjuangan dakwah Rasulullah SAW yang banyak didukung oleh kalangan pemuda.
“Rasulullah SAW dalam perjuangannya tidak pernah lepas dari peran pemuda. Ini menjadi refleksi bagi pelajar NU bahwa kalian adalah penggerak perubahan dan penentu masa depan bangsa,” tegasnya.
Melalui seminar nasional tersebut, Abdul Malik berharap proses kaderisasi di tubuh IPNU semakin kuat dan mampu melahirkan generasi yang berkarakter, berintegritas, serta menjadikan nilai-nilai Aswaja sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari.
“Mudah-mudahan seminar ini menjadi momentum memperkuat regenerasi kader IPNU. Pesan saya, terus pegang teguh nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah sebagai kompas dalam berinteraksi dan membangun kehidupan bermasyarakat,” pungkasnya.











