PALEMBANG, Catatan Jurnalist — Warga Palembang dalam beberapa pekan terakhir mengeluhkan suhu udara yang terasa semakin menyengat. Panas terik bahkan dirasakan sejak pagi hingga siang hari, membuat aktivitas masyarakat menjadi kurang nyaman.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Sumatera Selatan memastikan fenomena tersebut bukan tanpa sebab. Minimnya pembentukan awan dan mulai masuknya wilayah Sumsel ke musim kemarau menjadi faktor utama yang memicu peningkatan suhu udara.
Kepala BMKG Sumsel, Wandayantolis, menjelaskan berkurangnya tutupan awan membuat radiasi matahari langsung mencapai permukaan bumi tanpa banyak hambatan.
“Palembang saat ini mengalami minim pembentukan awan yang biasanya berfungsi mengurangi paparan radiasi matahari langsung. Akibatnya suhu udara terasa lebih panas,” ujarnya, Senin (1/6/2026).
Menurutnya, Sumatera Selatan kini tengah berada dalam fase peralihan atau pancaroba menuju musim kemarau. Kondisi tersebut ditandai dengan berkurangnya intensitas hujan dan meningkatnya suhu udara secara bertahap.
BMKG mencatat, fase pancaroba juga bertepatan dengan periode puncak suhu maksimum pertama yang lazim terjadi setiap tahun. Ditambah lagi, sejumlah wilayah di Sumsel mengalami hari tanpa hujan selama tiga hingga enam hari berturut-turut sehingga panas semakin terasa.
“Ketika hujan tidak turun dalam beberapa hari, suhu udara akan cenderung meningkat dan terasa lebih menyengat,” jelasnya.
Sementara itu, Koordinator Bidang Observasi dan Informasi BMKG SMB II Palembang, Sinta Andayani, mengungkapkan menurunnya kandungan uap air di atmosfer turut memperparah kondisi cuaca panas yang sedang terjadi.
Berkurangnya uap air menyebabkan pertumbuhan awan hujan menjadi sangat terbatas. Dampaknya, efek pendinginan alami yang biasanya muncul saat hujan ikut berkurang.
“Ketersediaan uap air di atmosfer mulai menurun sehingga pembentukan awan hujan menjadi minim. Kondisi ini membuat cuaca panas lebih dominan,” kata Sinta.
BMKG memperkirakan suhu panas di Palembang dan sejumlah wilayah Sumsel masih berpotensi berlangsung dalam beberapa waktu ke depan seiring semakin kuatnya pengaruh musim kemarau.
Masyarakat diimbau meningkatkan konsumsi air putih, menghindari paparan sinar matahari secara langsung pada siang hari, serta membatasi aktivitas luar ruangan untuk mencegah gangguan kesehatan akibat cuaca panas ekstrem.(Riza Vahlevi)














