Gubernur NTT Murka, Merespon Bocah Gantung Diri: “Apa Guna PKH Triliunan Jika Rakyat Masih Mati Kelaparan?”

KUPANG, Catatan Jurnalist — Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Melki Laka Lena meluapkan kemarahan terbuka terhadap kinerja jajaran pemerintah daerah, khususnya Pemerintah Kabupaten Ngada, menyusul meninggalnya seorang anak akibat kemiskinan ekstrem. Peristiwa tragis tersebut disebut Gubernur sebagai tamparan keras dan alarm kegagalan negara dalam melindungi warganya.

Dalam forum resmi yang dihadiri pejabat lintas daerah, Gubernur menyampaikan keprihatinan mendalam atas laporan seorang anak asal Kabupaten Ngada yang meninggal dunia karena tidak mampu membeli perlengkapan sekolah sederhana seperti buku dan bolpoin.

“Di tengah kita semua bisa duduk nyaman seperti ini, masih ada warga NTT yang mati hanya karena dia miskin,” ujar Gubernur dengan nada tinggi dan penuh emosi.

Menurutnya, tragedi tersebut tidak hanya mencoreng wajah daerah, tetapi juga telah menjadi sorotan nasional. Ia mengungkapkan bahwa sejumlah menteri hingga pimpinan DPR RI langsung menghubunginya untuk mempertanyakan kondisi sosial di NTT.

Gubernur secara tegas menyoroti lambannya respons Pemerintah Kabupaten Ngada. Hingga dilakukan pengecekan terakhir, disebutkan belum ada pejabat daerah setempat yang turun langsung untuk memastikan kondisi keluarga korban.

“Saya WhatsApp pimpinan daerahnya, lama sekali respons. Akhirnya saya minta orang saya sendiri yang turun ke lapangan,” ungkapnya.

Dalam forum tersebut, Gubernur bahkan memberikan teguran langsung kepada Sekretaris Daerah (Sekda) Ngada yang hadir. Ia menegaskan bahwa pemerintah daerah seharusnya merasa malu atas kejadian memilukan tersebut.

Lebih jauh, Gubernur menilai tragedi ini sebagai kegagalan kolektif, tidak hanya pemerintah kabupaten, tetapi juga pemerintah provinsi, pranata sosial, keagamaan, dan budaya yang seharusnya menjadi jaring pengaman masyarakat.

Ia mempertanyakan efektivitas berbagai program bantuan sosial, termasuk Program Keluarga Harapan (PKH), yang setiap tahun mengalirkan dana triliunan rupiah ke NTT, namun faktanya masih ada warga yang meninggal akibat kemiskinan ekstrem.

“Guna apa kita punya PKH, punya perangkat sosial, uang triliunan masuk ke NTT untuk urusan orang miskin, tapi masih ada yang mati karena urusan begini?” tegasnya.

Sebagai langkah konkret, Gubernur memerintahkan agar keluarga korban segera diurus secara layak, termasuk pemakaman yang manusiawi dan pendampingan sosial berkelanjutan. Ia juga memperingatkan akan mengambil tindakan tegas terhadap pejabat yang lalai jika peristiwa serupa kembali terjadi.

Tak hanya itu, Gubernur menginstruksikan seluruh jajaran pemerintahan hingga tingkat RT/RW untuk menghidupkan kembali kepekaan sosial dan memastikan tidak ada lagi warga yang terabaikan oleh sistem.

“Mulai besok, secara berjenjang dan bertingkat, siapa pun yang bertanggung jawab akan kita eksekusi. Tidak boleh lagi ada orang mati hanya karena kita abai,” pungkasnya.

Laporan : Haman Hendrikus

banner 970x250

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *