KEEROM, Catatan Jurnalist – Kerusakan parah badan jalan di ruas Trans Jayapura–Wamena tepatnya di Kampung Kalimo, Distrik Waris, Kabupaten Keerom, Papua, semakin mengancam kelancaran arus logistik menuju wilayah pegunungan dan pesisir Papua. Kondisi jalan yang rusak berat tersebut membuat sopir angkutan barang, penumpang, serta warga sekitar mendesak pemerintah segera membangun jembatan permanen di lokasi tersebut.
Ruas jalan nasional yang menghubungkan Jayapura dengan Wamena itu kini mengalami kerusakan serius. Aspal di sejumlah titik sudah hilang dan berganti dengan kubangan lumpur dalam serta genangan air yang menyerupai aliran sungai kecil, terutama di kawasan Distrik Waris, Kabupaten Keerom.
Bagi para sopir truk pengangkut logistik dan kendaraan penumpang roda empat, jalur tersebut menjadi salah satu titik paling rawan dan menakutkan untuk dilalui. Setiap harinya puluhan truk terpaksa antre panjang dan saling membantu menggunakan seling atau tali baja agar dapat keluar dari kubangan lumpur.
Risiko kecelakaan pun cukup tinggi. Kendaraan yang melintas berpotensi terbalik, terperosok, bahkan mengalami kerusakan seperti patah as roda akibat kondisi jalan yang tidak stabil.
Salah satu sopir truk lintas Senggi–Abe, Fansiskus Seran, mengatakan kerusakan jalan di lokasi tersebut sudah berlangsung cukup lama. Namun hingga kini belum ada penanganan permanen dari pemerintah.
Menurutnya, ruas Trans Jayapura–Wamena merupakan jalur vital yang menghubungkan wilayah pesisir dengan daerah pegunungan. Jalur ini sangat penting untuk distribusi logistik, bahan pangan, hingga kebutuhan pokok masyarakat di berbagai wilayah Papua.
“Kalau kondisi jalan seperti ini terus dibiarkan, sangat membahayakan pengendara dan juga menghambat distribusi barang. Kami berharap pemerintah segera membangun jembatan permanen agar jalur ini bisa dilalui dengan aman,” ujar Seran kepada wartawan, Sabtu (14/3/2026) malam.
Ia mengaku para sopir sudah terlalu sering menerima janji perbaikan sementara yang tidak bertahan lama. Menurutnya, penimbunan tanah atau perbaikan darurat tidak akan menyelesaikan persoalan karena kondisi tanah di lokasi tersebut labil dan selalu tergenang air.
“Kami sudah bosan dengan janji perbaikan sementara. Kami minta pemerintah pusat dan daerah membangun jembatan permanen di sini, seperti konstruksi Jembatan Meteor yang kuat. Kalau hanya ditimbun tanah, begitu hujan pasti rusak lagi,” tegasnya.
Menurut para sopir, pembangunan jembatan permanen dianggap sebagai solusi jangka panjang untuk mengatasi kondisi tanah yang terus bergerak serta aliran air yang sering merusak badan jalan di kawasan tersebut.
Seran menjelaskan, idealnya jembatan yang dibangun memiliki konstruksi kokoh dengan panjang sekitar 100 hingga 200 meter agar dapat menutup area yang rawan longsor dan genangan air.
“Di bawah tanah ini ada rongga dan selalu basah. Sedikit hujan saja tanah langsung lembek. Air dari atas juga mengalir ke bawah karena di sana ada kali. Jadi selama tidak dibuat jembatan permanen, kondisi jalan akan tetap seperti ini,” katanya.
Ia juga mendesak agar Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional Papua segera turun tangan menangani kerusakan jalan tersebut. Pasalnya, ruas Trans Jayapura–Wamena merupakan jalan nasional yang menjadi tanggung jawab pemerintah pusat.
Tidak hanya sopir, warga sekitar juga mengaku sangat terdampak oleh rusaknya jalur tersebut. Kerusakan jalan membuat aktivitas ekonomi masyarakat terganggu, terutama bagi petani yang hendak menjual hasil kebun ke berbagai wilayah di Papua.
“Pemerintah harus dengar suara sopir-sopir ini. Mereka yang membawa logistik dan makanan ke daerah pegunungan. Jangan sampai menunggu ada korban jiwa baru bertindak,” ujar salah satu penumpang yang enggan disebutkan namanya.
Saat ini para sopir masih berupaya memperbaiki jalan secara swadaya dengan peralatan seadanya agar kendaraan tetap dapat melintas. Mereka bahu-membahu menimbun lubang dan menarik kendaraan yang terjebak lumpur menggunakan tali baja.
Namun upaya tersebut hanya bersifat sementara. Ketika hujan turun, kondisi jalan kembali rusak dan semakin berbahaya untuk dilalui.
Warga berharap pemerintah pusat maupun pemerintah daerah segera meninjau langsung kondisi di lapangan dan mengambil langkah cepat untuk memperbaiki kerusakan jalan serta membangun jembatan permanen di jalur strategis tersebut.
Pembangunan infrastruktur di kawasan ini dinilai sangat penting untuk menjamin keselamatan pengguna jalan serta menjaga kelancaran distribusi logistik antara Jayapura dan Wamena yang selama ini menjadi urat nadi perekonomian masyarakat Papua.
Sebagai informasi, pengembangan infrastruktur jalan nasional termasuk jalur Trans Papua memiliki landasan hukum antara lain Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2005–2025, Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2015, serta Peraturan Presiden Nomor 3 Tahun 2016 tentang Percepatan Pelaksanaan Proyek Strategis Nasional.
Laporan : Eskop Wisabla















