Kembangkan Wisata Rohani, Dua Jemaat di Sentani Gelar Pelatihan Budaya  

JAYAPURA, Catatan Jurnalist — Jemaat Gereja GKI Yahim Klasis Sentani bekerja sama dengan Jemaat GKI Ebenheizer Kalaben Klasis Malamoi Sorong Menyelenggarakan pelatihan pembuatan Mahkota Adat, Hiloy, dan Yanggalu, sebagai bagian dari rangkaian kegiatan Wisata Rohani yang melibatkan Persekutuan Anggota Muda (PAM), Kamis (28/8/2025).

Kegiatan ini bertujuan untuk melestarikan kearifan lokal serta memperkenalkan kembali kepada generasi muda, khususnya PAM GKI Ebenheizer Kalaben, tentang peralatan tradisional khas masyarakat Sentani yang sarat makna budaya dan spiritualitas.

Ketua Jemaat GKI Yahim, Pdt. Oktovina W. Kormasela, dalam sambutannya menekankan pentingnya pelestarian budaya lokal sebagai bagian dari panggilan iman.

“Tuhan menempatkan manusia di tengah budaya, maka budaya yang baik harus dilestarikan. Seperti Hiloy yang bukan sekadar alat makan papeda, tetapi simbol persekutuan dan persatuan suku Sentani,” katanya.

Saat makan papeda bersama dalam satu bogor, kita belajar makna kebersamaan yang tidak bisa dipisahkan dari hidup bergereja,” tuturnya kepada wartawan Melalui via seluler pribadinya.

Instruktur pelatihan, Bartholomeus Wally—seorang seniman ukir yang telah berkarya sejak 1982 dan pernah tercatat di Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai bagian dari 1.000 penabuh tifa menguraikan filosofi di balik alat-alat tradisional tersebut.

“Hiloy adalah garpu kayu khas Sentani yang digunakan untuk menyantap papeda, dan memiliki makna kebersamaan serta penghormatan terhadap leluhur. Sementara Yanggalu adalah alat untuk mengaduk sagu hingga menjadi papeda, bagian penting dari tradisi kuliner dan ritual kami. Mahkota adat juga punya nilai filosofis yang membedakan satu suku dengan lainnya. Ia juga mendorong agar pelatihan serupa rutin dilaksanakan di lingkungan gereja sebagai sarana pewarisan budaya kepada generasi muda,” Ujarnya.

Sementara itu, Sekretaris Panitia Wisata Rohani, Ivana Felle, menekankan pelatihan ini bukan hanya aktivitas seni, tetapi juga sarana membangun persekutuan lintas jemaat dan memperkuat pemahaman lintas budaya.

“Kami ingin agar teman-teman dari Jemaat Ebenheizer Kalaben tidak hanya tahu budaya Sentani dari teori, tetapi juga mengalaminya langsung. Mahkota adat, Hiloy, dan Yanggalu masing-masing punya ciri khas dan nilai yang dalam,” ujarnya.

Salah satu peserta dari Jemaat Ebenheizer Kalaben, Nela Ulimpa, mengaku sangat terkesan dengan pengalaman tersebut. Ia merasa bersyukur bisa belajar langsung cara membuat Hiloy, Yanggalu, dan Mahkota Adat Sentani.

“Ini pengalaman baru bagi saya. Ternyata membuat mahkota adat tidak serumit yang saya bayangkan. Latihannya praktis dan mudah. Saya juga baru tahu bahwa Hiloy dari suku Sentani berbentuk tiga segi, berbeda dengan suku Moi yang dua segi. Papua memang satu, tapi tiap suku punya kekhasan budaya yang luar biasa,” ungkapnya dengan antusias.

“Melalui kegiatan ini, para peserta tidak hanya memperoleh keterampilan baru, tetapi juga memperdalam pemahaman mereka akan warisan budaya yang menjadi bagian penting dari identitas dan persekutuan Gerejawi, kegiatan ini tercatat lamanya 25 April hingga 2 September 2025 ,” tutup pembicara.

Laporan : Eskop Wisabla

banner 970x250

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *