KBRI Dili Pulangkan Enam Nelayan Indonesia Terdampar di Perairan Timor Leste

BELU, Catatan Jurnalist — Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Dili resmi memulangkan enam nelayan asal Indonesia yang sempat terdampar di perairan Timor Leste. Proses serah terima dilakukan di Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Motaain, Nusa Tenggara Timur, Rabu (7/1/2026).

​Keenam nelayan tersebut adalah Erfan Agus (Nahkoda), Alfurkan Kapitan Lamahala, Juslan Tungga, Kamaruddin, Muhaimin Abas, dan Nawwir Gazali. Mereka diserahkan oleh Minister Counsellor Protokol dan Konsuler KBRI Dili, Nugroho Yuwono Aribhimo, kepada Kepala Stasiun Bakamla Kupang, Mayor Bakamla Yeanry M. Olang.

Insiden bermula ketika para nelayan berangkat melaut pada 12 Desember 2025. Namun, dalam perjalanan pulang pada 19 Desember 2025, kapal mereka mengalami kerusakan mesin fatal pada bagian klep. Kondisi ini membuat kapal kehilangan daya dan terombang-ambing di laut lepas selama berhari-hari dengan logistik yang kian menipis.

​”Para nelayan sempat berusaha melakukan perbaikan dan meminta pertolongan, namun tidak berhasil hingga akhirnya memasuki perairan Timor Leste,” tulis laporan resmi KBRI Dili.

​Titik terang muncul pada awal Januari 2026 saat para nelayan melihat anjungan proyek migas Bayu Undan di Timor Gap. Mereka segera memberikan sinyal darurat yang kemudian direspons oleh perusahaan migas Santos. Keenamnya dievakuasi ke kapal MMA Coral, namun kapal nelayan milik mereka dilaporkan tenggelam akibat cuaca buruk saat proses penarikan.

Pasca-evakuasi, KBRI Dili bergerak cepat melakukan koordinasi dengan Otoritas Petroleum Nasional Timor-Leste (ANP), kepolisian air, serta pihak imigrasi setempat. Pada 4 Januari 2026, para nelayan tiba di Dili dan langsung ditempatkan di shelter KBRI untuk mendapatkan perawatan kesehatan serta pemenuhan kebutuhan dasar.

​”Kami memastikan seluruh ABK dalam kondisi sehat. Selama di Dili, kami juga memproses penerbitan Surat Perjalanan Laksana Paspor (SPLP) agar mereka dapat segera pulang ke tanah air,” ujar Nugroho Yuwono Aribhimo dalam proses serah terima.

Setelah tiba di wilayah Indonesia, penanganan keenam nelayan ini akan dilanjutkan oleh Bakamla Kupang dan Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi NTT. Pihak Bakamla menyatakan akan terus memantau perkembangan kondisi para nelayan hingga mereka kembali ke daerah asal masing-masing.

​Kepulangan ini menjadi bukti sinergi yang kuat antara otoritas lintas negara dan lembaga keamanan laut dalam melindungi warga negara Indonesia yang mengalami musibah di perbatasan.

Laporan : Haman Hendrikus

banner 970x250

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *