Mahasiswa PNF FIP UNP Populerkan Pendidikan Alternatif Lewat Kuliah Lapangan di Bukittinggi dan Agam

AGAM, Catatan Jurnalist Semangat pengembangan pendidikan alternatif terus tumbuh di Sumatera Barat. Hal itu terlihat dari kegiatan kuliah lapangan yang digelar mahasiswa Departemen Pendidikan Non Formal (PNF) Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Padang (FIP UNP) dengan melibatkan sejumlah mitra strategis.

Kegiatan ini bertujuan memperkenalkan konsep pendidikan alternatif sekaligus memperkuat potensi sumber daya manusia melalui pengalaman langsung di lapangan. Sebanyak 70 mahasiswa mengikuti rangkaian kegiatan yang memadukan teori perkuliahan dengan praktik sosial di masyarakat.

Dosen pendamping kegiatan, M. Fahrur Rozi, menjelaskan bahwa kuliah lapangan tersebut merupakan bagian dari luaran mata kuliah Kapita Selekta yang dirancang sebagai penutup proses pembelajaran.

“Melalui kegiatan ini kami ingin mahasiswa memahami secara utuh bagaimana pendidikan alternatif dan pendidikan nonformal berperan dalam kehidupan masyarakat. Karena itu disepakati study tour ini sebagai bagian akhir perkuliahan,” ujar Rozi kepada tim Catatanjurnalist.com, Sabtu (16/05/2026).

Dalam pelaksanaannya, mahasiswa menggandeng sejumlah mitra, di antaranya Don Ameo Journey sebagai konsultan pariwisata, Rumah Baca Anak Nagari (RBAN) sebagai pegiat literasi, serta Pokdarwis Nagari Koto Gadang yang fokus pada pemberdayaan masyarakat berbasis pariwisata.

Perjalanan dimulai dari Kota Padang menuju Rumah Baca Anak Nagari di kawasan Gulai Bancah, Kota Bukittinggi. Setibanya di lokasi, rombongan disambut langsung oleh pendiri RBAN, Sry Eka Handayani atau Bunda Sri, Hasan Achari (Ayah Hasan), serta para relawan.

Selama kunjungan, mahasiswa melakukan observasi dan wawancara guna menggali informasi mengenai pengelolaan rumah baca dan program literasi masyarakat.

“Kami menerima kunjungan sekitar 70 mahasiswa Departemen PNF FIP UNP. Mereka sangat antusias bertanya mengenai program rumah baca dan tata kelola kelembagaan yang kami jalankan,” kata Ayah Hasan yang juga Ketua Forum TBM Sumbar.

Usai dari Bukittinggi, rombongan melanjutkan perjalanan menuju Nagari Koto Gadang, Kabupaten Agam. Di desa wisata tersebut, mahasiswa mengikuti sesi diskusi bersama Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Koto Gadang, Jurian Andika.

Dalam pemaparannya, Jurian menjelaskan strategi pengelolaan desa wisata berbasis pemberdayaan komunitas yang berhasil membawa Koto Gadang meraih Juara II Wonderful Indonesia Award 2025.

“Kunci Koto Gadang adalah menjaga keaslian dan keasrian. Kami memiliki sekitar 170 bangunan yang diduga cagar budaya, lebih dari 100 perempuan yang masih aktif menyulam, serta para pengrajin perak. Semua itu menjadi modal budaya yang harus dijaga dan dikelola secara profesional,” ungkap Jurian.

Menurutnya, pelestarian budaya yang dibarengi pengelolaan profesional mampu mendorong peningkatan kunjungan wisatawan dan pertumbuhan ekonomi masyarakat setempat.

Kegiatan kemudian ditutup dengan walking tour di kawasan Pusaka Koto Gadang. Para mahasiswa diajak mengunjungi rumah kelahiran tokoh nasional seperti Haji Agus Salim, Sutan Sjahrir, dan Roehana Koedoes, serta menikmati panorama Janjang Koto Gadang dan Ngarai Sianok.

banner 970x250

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Liputan Terkini