PALEMBANG, Catatan Jurnalist — Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan menggelar Rapat Koordinasi Pengendalian Kebakaran Hutan, Kebun, dan Lahan (karhutla) sebagai langkah antisipasi menghadapi potensi musim kemarau kering. Kegiatan ini berlangsung di Auditorium Graha Bina Praja, Pemprov Sumsel, Jumat (24/4/2026).
Gubernur Sumatera Selatan, Herman Deru, menegaskan bahwa pemerintah mulai meningkatkan kewaspadaan seiring peralihan kondisi cuaca dari La Niña menuju El Niño yang berpotensi meningkatkan risiko kebakaran, khususnya di wilayah dengan lahan gambut luas.
“Pencegahan, pengendalian, dan penanggulangan ini penting karena kita sudah bergeser dari La Niña ke El Niño. Artinya, potensi dari 1,2 juta hektare lahan gambut yang selama ini rawan, kembali terbuka untuk terbakar,” ujar Herman Deru.

Ia menyebut, dalam dua tahun terakhir kejadian karhutla relatif minim. Namun, kondisi tersebut tidak boleh membuat lengah. Pemerintah akan kembali mengaktifkan peran relawan serta memperkuat kesiapsiagaan di tingkat desa.
“Relawan harus kita aktifkan kembali. Semangat mereka perlu kita bangun agar seluruh kekuatan di desa bisa digerakkan untuk mencegah kebakaran meluas,” tambahnya.
Menurut Herman Deru, pola penanganan karhutla saat ini lebih difokuskan pada upaya pencegahan. Pasalnya, pencegahan dinilai jauh lebih efektif dan efisien dibandingkan penanggulangan saat kebakaran sudah terjadi.
Ia juga mengungkapkan sejumlah kabupaten/kota yang menjadi perhatian khusus berdasarkan tingkat kerawanan, terutama yang memiliki luasan lahan gambut cukup besar.
“Wilayah yang menjadi sorotan antara lain OKI, Ogan Ilir, Musi Banyuasin, PALI, Muara Enim, OKU, dan OKU Timur. Semua sudah dipetakan agar penanganannya lebih terarah dan cermat,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Sumatera Selatan, M. Iqbal Alisyahbana, menekankan bahwa pencegahan karhutla tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga membutuhkan keterlibatan aktif masyarakat.
“Kami akan terus memperkuat koordinasi lintas instansi, baik pemerintah pusat, provinsi, kabupaten/kota, hingga pelaku usaha. Semua pihak harus berkolaborasi,” ujarnya.
Ia menambahkan, penanganan karhutla tidak bisa dilakukan secara parsial. Peran masyarakat sangat penting, terutama dalam memberikan informasi awal terkait kondisi di wilayah masing-masing.

Selain itu, dampak El Niño diperkirakan akan membuat puncak musim kemarau datang lebih cepat dan lebih kering, dibandingkan biasanya yang terjadi pada Juli hingga September.
“Kondisi ini harus kita sikapi bersama. Kami juga akan berkoordinasi dengan TNI, Polri, dan Manggala Agni untuk memperkuat posko-posko di daerah, khususnya wilayah gambut,” pungkasnya.(ADV)















