PALEMBANG, Catatan Jurnalist — Dinamika harga kebutuhan masyarakat kembali menjadi sorotan di awal tahun 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Palembang merilis data resmi inflasi dan deflasi Januari 2026 yang menunjukkan kondisi relatif terkendali, meski diwarnai lonjakan harga sejumlah komoditas strategis.
Rilis Berita Resmi Statistik (BRS) yang digelar di Kantor BPS Kota Palembang, Senin (2/2/2026), dihadiri Asisten II Setda Kota Palembang, Isnaini Madani, mewakili Pemerintah Kota Palembang.
Statistisi Madya BPS Kota Palembang, Eviana Admanegara, mengungkapkan inflasi month to month Januari 2026 terhadap Desember 2025 tercatat sebesar 0,05 persen, sementara inflasi year on year Januari 2026 terhadap Januari 2025 berada di angka 3,45 persen.
Kenaikan harga emas menjadi faktor paling dominan penyumbang inflasi dengan andil mencapai 0,425 persen. Disusul komoditas tomat (0,030 persen), angkutan udara (0,012 persen), kontrakan rumah (0,011 persen), serta tarif kendaraan travel (0,009 persen).
Di sisi lain, tekanan inflasi tertahan oleh sejumlah komoditas yang mengalami penurunan harga. Cabai merah menjadi penyumbang deflasi terbesar dengan andil 0,266 persen, diikuti tarif kendaraan roda dua daring (0,039 persen), bensin (0,030 persen), bawang merah (0,022 persen), serta telur ayam ras (0,022 persen).
BPS mencatat, dari 393 komoditas yang dipantau, sebanyak 91 komoditas mengalami kenaikan harga, 78 komoditas mengalami penurunan, dan 224 komoditas relatif stabil. Data ini menegaskan bahwa meski terdapat gejolak pada komoditas tertentu, struktur harga secara umum masih berada dalam batas terkendali.
Eviana juga memaparkan perbandingan inflasi antar daerah di Sumatera Selatan. Kota Lubuklinggau mencatat inflasi year on year tertinggi sebesar 3,57 persen, sementara Kabupaten Muara Enim menjadi yang terendah dengan 2,96 persen.
Menghadapi dinamika inflasi sepanjang 2026, Pemerintah Kota Palembang menyiapkan sejumlah langkah strategis. Asisten II Setda Kota Palembang, Isnaini Madani, menegaskan bahwa Pemkot Palembang di bawah kepemimpinan Wali Kota Ratu Dewa berkomitmen menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat.
Strategi yang akan dijalankan meliputi penambahan cadangan bahan pangan melalui kerja sama antar daerah, pelaksanaan pasar murah di tingkat kecamatan dan kelurahan, revitalisasi pasar tradisional agar lebih efisien dan nyaman, serta perbaikan infrastruktur untuk mendukung kelancaran distribusi barang dan jasa.
Isnaini juga mengapresiasi sinergi yang terjalin antara Pemkot Palembang dan BPS dalam penyediaan data ekonomi yang akurat dan berkelanjutan.
“Kami berharap kerja sama ini terus diperkuat untuk membangun Palembang yang tangguh dan berbasis data,” ujarnya.
Kondisi inflasi Palembang di awal 2026 menunjukkan tren yang relatif stabil, namun tetap menyimpan potensi tekanan dari komoditas strategis seperti emas dan bahan pangan. Dengan langkah antisipatif yang telah disiapkan, Pemkot Palembang optimistis stabilitas harga dapat terjaga, sehingga daya beli masyarakat tetap aman.
Laporan : Dapites















