Petani Kacang Panjang di Banyuasin Keluhkan Harga Jual Rendah dan Tingginya Biaya Produksi

BANYUASIN, Catatan Jurnalist – Petani kacang panjang di Kabupaten Banyuasin mengeluhkan rendahnya harga jual hasil panen yang dinilai tidak sebanding dengan tingginya biaya produksi yang harus dikeluarkan, terutama untuk kebutuhan pupuk dan insektisida.

Keluhan tersebut disampaikan Rudi Ilham, petani kacang panjang yang mengelola lahan di Jalan Rawang Sari, RT 24 RW 07, Kelurahan Tanah Mas, Kecamatan Talang Kelapa, Kabupaten Banyuasin, Selasa (16/6/2026).

Menurut Rudi, budidaya kacang panjang membutuhkan waktu sekitar satu setengah bulan sejak benih ditanam hingga memasuki masa panen.

“Kurang lebih satu setengah bulan sejak benih ditebar sampai bisa dipanen,” ujarnya.

Ia menjelaskan, selama masa pertumbuhan tanaman, petani harus menghadapi berbagai ancaman hama seperti ulat, kutu, dan hama yang dikenal petani setempat dengan sebutan “lembing”. Untuk mengendalikan serangan hama tersebut, penyemprotan insektisida harus dilakukan secara rutin setiap lima hingga tujuh hari sekali.

Selain serangan hama, faktor cuaca juga berpengaruh terhadap hasil produksi. Rudi mengatakan, musim kemarau yang berkepanjangan dapat menyebabkan hasil panen menurun dibandingkan kondisi cuaca normal.

Meski demikian, persoalan utama yang paling dirasakan petani saat ini adalah rendahnya harga jual di tingkat petani. Saat ini, harga kacang panjang berkisar antara Rp2.000 hingga Rp3.000 per kilogram.

“Harganya memang mulai naik, tetapi masih tergolong murah,” katanya.

Padahal, menurutnya, harga kacang panjang pernah mencapai belasan ribu rupiah per kilogram ketika pasokan dari petani berkurang dan permintaan pasar meningkat.

Di sisi lain, biaya produksi terus mengalami kenaikan. Untuk mengelola lahan sekitar seperempat hektare, petani harus mengeluarkan biaya cukup besar untuk pembelian pupuk dan obat-obatan pertanian.

“Harga obat-obatan pertanian sekarang sangat tinggi, sementara harga hasil panen tidak sesuai dengan biaya yang kami keluarkan,” ungkap Rudi.

Ia berharap pemerintah dapat memberikan perhatian lebih kepada para petani, khususnya melalui upaya menekan harga pupuk, insektisida, dan sarana produksi pertanian lainnya.

“Kami berharap harga pupuk dan obat-obatan pertanian bisa diturunkan agar petani tidak mengalami kerugian dan tetap memperoleh hasil yang layak,” harapnya.

Meski menghadapi berbagai tantangan, para petani kacang panjang di Banyuasin tetap berupaya mempertahankan produktivitas pertanian sebagai sumber penghidupan keluarga sekaligus memenuhi kebutuhan pasar akan komoditas sayuran segar.

banner 970x250

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *