JAKARTA, Catatan Jurnalist — Perhimpunan Filantropi Indonesia (PFI) menegaskan peran strategis sektor filantropi sebagai penggerak solusi atas berbagai tantangan pembangunan nasional dalam Rapat Umum Anggota (RUA) 2026 yang digelar di Gedung IPMI, Jakarta, 23 April 2026.
Forum tahunan ini menjadi momentum penting bagi PFI untuk mengevaluasi capaian sepanjang 2025 sekaligus memperkuat arah kebijakan ke depan dalam membangun ekosistem filantropi yang lebih terintegrasi, kolaboratif, dan berdampak luas.
Sepanjang 2025, PFI mencatat sejumlah capaian signifikan. Jumlah anggota meningkat menjadi 252 organisasi, menunjukkan tingginya kepercayaan lintas sektor terhadap peran filantropi. Selain itu, PFI menggelar lebih dari 24 forum diskusi reguler dan 32 sesi dalam Filantropi Indonesia Festival (FIFest) 2025 yang melibatkan lebih dari 3.750 peserta.
Dari sisi penguatan pengetahuan, PFI menghasilkan tujuh publikasi strategis sebagai rujukan kebijakan berbasis riset. Sementara itu, upaya komunikasi publik juga diperluas melalui 171 liputan media yang menjangkau lebih dari 3,4 juta audiens, serta produksi artikel, opini, dan konferensi pers.
Ekspansi jaringan turut diperkuat melalui pengembangan chapter daerah, termasuk di Makassar dan Surabaya, guna memastikan program filantropi lebih kontekstual dan responsif terhadap kebutuhan lokal.
PFI juga mendorong berbagai inisiatif strategis, seperti penyelenggaraan FIFest 2025 dan peluncuran Piagam Budaya Filantropi yang menjadi pedoman praktik filantropi yang etis, transparan, dan relevan dengan konteks Indonesia.
Dalam menghadapi tantangan pembangunan yang semakin kompleks, PFI memperkuat kolaborasi lintas sektor melalui Multi-Stakeholder Forum (MSF). Forum ini melibatkan pemerintah, organisasi masyarakat sipil, serta sektor swasta hingga tingkat desa sebagai ujung tombak implementasi program.
Ketua Badan Pengurus PFI, Rizal Algamar, menegaskan bahwa pendekatan kolaboratif menjadi kunci menghadapi tantangan ke depan. Ia menyebut PFI terus memperkuat perannya sebagai pusat kolaborasi melalui pengembangan pengetahuan berbasis data, kampanye publik, dan sinergi lintas sektor.
Selain itu, PFI juga mengembangkan klaster filantropi sebagai ruang kolaborasi tematik antaranggota. Melalui platform ini, pertukaran praktik baik dan aksi kolektif dapat dilakukan secara lebih terarah dan terukur.
Di tengah dinamika global, termasuk menurunnya bantuan internasional, filantropi dinilai memiliki peluang besar sebagai katalisator perubahan melalui inovasi pendanaan sosial dan penguatan kemitraan.
Melalui RUA 2026, PFI menegaskan komitmennya untuk terus menjadi penggerak ekosistem filantropi nasional, mendorong kebijakan yang kondusif, serta memastikan praktik filantropi yang inklusif, transparan, dan berdampak bagi masyarakat luas.
Pengalaman para anggota juga memperkuat posisi PFI sebagai ekosistem kolaboratif yang tidak hanya mempertemukan berbagai lembaga, tetapi juga mendorong praktik filantropi yang akuntabel dan berkelanjutan.















