PALEMBANG, Catatan Jurnalist — Tradisi lisan masyarakat Semende, Sumatera Selatan, kembali dihidupkan melalui pertunjukan tari teatrikal “Sardundun: Nyanyian Atap, Gerak Ritus dari Tanah Semende” yang dipentaskan di Lawang Borotan, Selasa (30/6/2026).
Pertunjukan ini menjadi upaya mengangkat kembali nilai gotong royong, spiritualitas, dan kebersamaan yang selama ini menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Semende.
Karya yang dikoreografi oleh Sonia Anisa Utami dan disutradarai Hasan tersebut tidak sekadar menyajikan pertunjukan seni, tetapi juga mengajak penonton memahami makna tradisi Sardundun yang dahulu selalu hadir dalam proses pembangunan rumah adat masyarakat Semende.
Dalam tradisi tersebut, membangun rumah bukan hanya menjadi tanggung jawab sebuah keluarga, melainkan dilakukan secara bergotong royong. Kaum laki-laki bekerja mendirikan tiang dan memasang atap, perempuan menyiapkan hidangan bagi para pekerja, sementara para tetua memanjatkan doa agar rumah yang dibangun membawa keselamatan dan keberkahan.
Di tengah prosesi itulah Sardundun dilantunkan. Sastra tutur yang diwariskan secara turun-temurun ini dinyanyikan saat kerangka rumah telah berdiri dan atap mulai dipasang sebagai doa bersama bagi penghuni rumah agar memperoleh keselamatan, rezeki, serta kehidupan yang harmonis.
Namun, seiring perkembangan zaman, tradisi tersebut mulai jarang ditemui. Perubahan pola pembangunan rumah yang kini lebih mengandalkan jasa tukang membuat ruang bagi tradisi Sardundun semakin menyempit. Nyanyian yang dahulu mengiringi pembangunan rumah kini lebih banyak hidup dalam ingatan para tetua.
Kegelisahan atas kondisi tersebut menjadi inspirasi lahirnya pertunjukan ini. Melalui bahasa tari, teater, musik, dan sastra tutur, para seniman menghadirkan kembali ingatan kolektif tentang pentingnya gotong royong dalam kehidupan masyarakat.
Alur pertunjukan mengisahkan seorang anak yang mendengar cerita Sardundun dari sang kakek. Kisah tersebut membawa penonton menyusuri kehidupan masyarakat Semende di masa lalu, ketika membangun rumah menjadi simbol persaudaraan dan solidaritas antarwarga.
Gerak tari yang dinamis dipadukan dengan musik serta tata artistik menghadirkan suasana yang sarat makna. Pertunjukan ini tidak berupaya merekonstruksi tradisi secara utuh, melainkan menerjemahkan nilai-nilai luhur Sardundun agar tetap relevan bagi generasi masa kini.
Koreografer Sonia Anisa Utami bersama sutradara Hasan berharap karya ini mampu menjadi pengingat bahwa warisan budaya bukan hanya untuk dikenang, tetapi juga dipraktikkan melalui nilai-nilai kebersamaan dalam kehidupan sehari-hari.
Pertunjukan didukung oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui program Dana Indonesia Raya sebagai bagian dari upaya pelestarian dan pemajuan kebudayaan Indonesia.
Pementasan turut dihadiri Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Sumatera Selatan Sri Guniarto, perwakilan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumatera Selatan Dr. Agung, Kepala Bidang Sejarah dan Tradisi Dinas Kebudayaan Kota Palembang Desi Muharman, Ketua Dewan Kesenian Sumatera Selatan M. Iqbal Rudianto, serta Ketua Dewan Kesenian Palembang Muhammad Nasir.
Selain menjadi ruang apresiasi seni, pertunjukan “Sardundun: Nyanyian Atap, Gerak Ritus dari Tanah Semende” diharapkan mampu membangkitkan kesadaran masyarakat, khususnya generasi muda, untuk terus menjaga dan mewariskan tradisi gotong royong yang menjadi identitas budaya masyarakat Semende.












