JAKARTA, Catatan Jurnalist — Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Nanik Sudaryati, menegaskan pihaknya akan memberikan teguran keras kepada seorang pria yang viral di media sosial karena berjoget di dalam Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Aksi pria yang disebut-sebut sebagai mitra pemilik SPPG itu menuai sorotan publik, terutama setelah beredar narasi yang mengaitkan kegiatannya dengan insentif sebesar Rp6 juta per hari dari pemerintah. Dalam video yang beredar, pria tersebut terlihat berjoget di sebuah ruangan berlatar logo BGN, serta di area dapur tanpa menggunakan Alat Pelindung Diri (APD).
Menanggapi hal tersebut, Nanik menyampaikan bahwa pihaknya telah menugaskan Direktur Pemantauan dan Pengawasan BGN untuk menemui yang bersangkutan. Teguran keras pun telah diberikan secara langsung.
“Kami sangat menyayangkan dan kecewa dengan sikap mitra yang demikian,” ujar Nanik kepada wartawan, Selasa (24/3).
Ia juga menyoroti tindakan pria tersebut yang dinilai tidak pantas, terlebih dilakukan di area dapur yang seharusnya memenuhi standar kebersihan dan keselamatan kerja.
“Tidak seharusnya berperilaku berlebihan seperti itu, apalagi membuat konten di dapur tanpa APD. Ini akan kami pantau secara serius,” tegasnya.
Lebih lanjut, BGN telah melakukan pemeriksaan terhadap fasilitas SPPG milik pria tersebut. Hasilnya, ditemukan sejumlah ketidaksesuaian dengan petunjuk teknis, termasuk tata letak dapur dan sistem Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL).
Akibatnya, operasional SPPG tersebut untuk sementara waktu dihentikan (suspend).
“Setelah dicek, layout dapurnya tidak sesuai dan IPAL-nya juga tidak benar, sehingga kami putuskan untuk menghentikan sementara operasionalnya,” jelas Nanik.
Diketahui, mitra tersebut memiliki tujuh titik dapur SPPG, namun baru satu yang beroperasi. Sementara lainnya belum berjalan.
BGN menegaskan bahwa program SPPG merupakan bagian dari upaya pemerintah dalam meningkatkan kualitas gizi dan mencerdaskan anak-anak, sehingga harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab.
“Ini bukan sekadar bisnis, melainkan program pemerintah untuk masa depan generasi. Jadi harus dijalankan dengan benar dan profesional,” pungkasnya.(Red)












