Siswa Terjang Banjir Demi Sekolah, DPRD Belu Desak Pemda “Jemput Bola” Dana Pusat Bangun Jembatan Lawalutolus

BELU, Catatan Jurnalist Potret buram akses pendidikan di wilayah perbatasan kembali tersaji dari Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur. Guru dan siswa SDK Laninis, Desa Lawalutolus, Kecamatan Tasifeto Barat, terpaksa mempertaruhkan nyawa dengan menerjang banjir sungai demi mengikuti kegiatan belajar mengajar (KBM).

Aksi nekat itu terekam dalam video yang viral di media sosial. Tampak para guru membentuk barisan manusia, saling berpegangan tangan, untuk mengawal siswa menyeberangi sungai yang meluap dan berarus deras. Sebuah pemandangan yang menggugah empati sekaligus menampar wajah negara dalam menjamin keselamatan anak-anak sekolah.

Menanggapi kondisi memprihatinkan tersebut, Anggota DPRD Kabupaten Belu dari daerah pemilihan setempat, Sergio Natalino Kansi Putra, melontarkan kritik keras dan mendesak pemerintah daerah agar tidak lagi bersikap pasif.

“Ini bukan lagi soal infrastruktur, ini soal nyawa. Keselamatan guru dan siswa tidak boleh dikompromikan hanya karena alasan anggaran,” tegas Sergio saat dihubungi, Rabu (21/1/2026).

Sergio mengungkapkan, rencana pembangunan jembatan di Desa Lawalutolus sejatinya sudah lama masuk dalam pembahasan pemerintah daerah. Namun hingga kini, rencana tersebut tak kunjung direalisasikan dengan alasan klasik: keterbatasan keuangan daerah.

“Kalau daerah tidak mampu, maka Pemda wajib jemput bola ke pemerintah provinsi dan pusat. Jangan menunggu viral atau korban jatuh baru bergerak,” katanya.

Ia menegaskan, Komisi III DPRD Belu akan mendorong langkah darurat berupa akses penyeberangan yang aman, sembari mendesak Pemkab Belu mengupayakan pendanaan dari APBD Provinsi maupun APBN.

Kondisi berbahaya itu dibenarkan oleh salah satu guru SDK Laninis, Matilda Soi. Menurutnya, setiap musim hujan, perjalanan ke sekolah berubah menjadi ancaman nyata bagi keselamatan.

“Setiap hujan kami stres. Harus melewati dua sungai, kali besar dan kali kecil. Kadang kami menunggu berjam-jam sampai air surut. Tapi sering juga terpaksa menyeberang karena sekolah tidak boleh berhenti,” ujarnya.

Matilda berharap pemerintah tidak lagi menutup mata terhadap penderitaan guru dan siswa di wilayah perbatasan.

“Kami hanya minta jembatan yang layak, agar pendidikan anak-anak di sini tidak terus dipertaruhkan dengan nyawa,” katanya.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari dinas terkait mengenai rencana teknis maupun kepastian pembangunan jembatan di Desa Lawalutolus. Publik mendesak pemerintah bertindak cepat, sebelum keberanian guru dan siswa itu berujung pada tragedi.

Laporan : Haman Hendrikus

banner 970x250

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Liputan Terkini