“Suami Saya Berangkat Sehat, Pulang Tinggal Jenazah”: Tangis Istri Sopir yang Meninggal Saat Antre Solar di Banyuasin

BANYUASIN, Catatan Jurnalist – Duka mendalam masih menyelimuti keluarga sopir truk atas nama Amri yang meninggal dunia saat mengantre solar bersubsidi di Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan. Bagi Novi, sang istri, suaminya berangkat bekerja dalam kondisi sehat. Namun, yang kembali ke rumah hanyalah jenazah.

Menurut Novi, suaminya baru menyelesaikan perjalanan dari Jambi dan tiba di wilayah Betung pada Senin pagi. Karena persediaan solar habis, korban memutuskan mengantre di SPBU untuk mengisi bahan bakar sebelum pulang ke rumah.

Foto : Novi istri Alm Amri warga Air Batu

“Berangkat dari Jambi, Senin pagi sudah sampai Betung. Karena solar habis, suami saya mengantre dari pagi. Seharian mengantre. Mungkin karena terlalu capek di dalam mobil,” ujar Novi, di konfirmasi Catatanjurnalist.com dikediamannya kelurahan Air Batu, Minggu (05/07/2026).

Ia menegaskan, suaminya tidak memiliki riwayat penyakit. Bahkan pada pagi hari sebelum kejadian, korban masih sempat menghubunginya melalui telepon seperti biasanya.

“Bapak tidak punya riwayat penyakit apa pun. Pagi itu masih sempat menelepon saya. Kami tidak tahu apa yang terjadi, mungkin karena terlalu kelelahan. Apakah tertidur atau bagaimana, kami tidak tahu,” katanya dengan suara bergetar.

Novi mengungkapkan, sulitnya mendapatkan solar bersubsidi sudah lama menjadi keluhan para sopir. Mereka harus menghabiskan waktu berjam-jam, bahkan hingga malam hari, hanya untuk mendapatkan jatah BBM.

“Sekarang susah sekali mencari solar. Antre dari pagi sampai malam baru dapat, kadang malah tidak dapat sama sekali,” terang Novi

Sekitar pukul 09.00 WIB, suaminya masih sempat memberi kabar bahwa dirinya sudah tiba di SPBU untuk mengantre. Namun, beberapa jam kemudian, kabar yang diterima keluarga justru mengejutkan.

“Siangnya saya dikabari suami saya sudah meninggal dunia,” ungkapnya.

Baca juga:

Novi berharap kejadian yang menimpa suaminya menjadi perhatian serius pemerintah agar tidak ada lagi keluarga lain yang mengalami kehilangan serupa.

“Kami berharap pemerintah benar-benar memperhatikan kebutuhan solar bagi para pengendara. Jangan sampai ada lagi kejadian seperti yang dialami suami saya.”

Sopir: Antre Sehari Semalam, Ekonomi Kami Ikut Terhenti

Foto : Warga sembawa Suprayogi

Keluhan serupa disampaikan Suprayogi, seorang sopir sekaligus warga Kecamatan Sembawa. Menurutnya, kelangkaan solar bersubsidi bukan hanya menyulitkan sopir, tetapi juga menghambat roda perekonomian.

“Kami sangat prihatin. Untuk mendapatkan solar sekarang sangat sulit, padahal armada kami bergantung pada solar untuk bekerja. Akibatnya usaha kami terganggu dan jadwal pengiriman barang ikut berantakan,” ujarnya.

Ia mengaku, tidak sedikit sopir yang harus menghabiskan waktu hingga satu hari satu malam hanya untuk mengantre di SPBU.

“Kadang kami harus antre satu hari satu malam hanya untuk mendapatkan solar,” imbuhnya.

Menurut Suprayogi, antrean panjang juga berdampak langsung kepada masyarakat. Ratusan truk yang mengular di badan jalan memicu kemacetan panjang di Jalan Lintas Timur Sumatera dan mengganggu aktivitas pengguna jalan lainnya.

Ia menilai, meninggalnya seorang sopir saat mengantre menjadi bukti bahwa persoalan distribusi solar bersubsidi tidak lagi bisa dianggap sebagai masalah biasa.

“Kami sangat prihatin. Antrean solar bukan hanya menyebabkan kemacetan, tetapi sekarang sampai ada sopir yang meninggal dunia,” ungkap Yogi.

Yoga berharap pemerintah pusat segera mengambil langkah nyata untuk membenahi distribusi solar bersubsidi agar peristiwa serupa tidak kembali terulang.

“Kami berharap kepada Presiden Republik Indonesia dan pemerintah agar memberikan solusi terbaik bagi masyarakat, khususnya para sopir, supaya lebih mudah memperoleh solar bersubsidi. Jangan sampai antrean panjang terus memakan korban,” pungkasnya.

banner 970x250

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *