Wisata Mangrove Kampung Yeflio Terbengkalai, Jembatan Ambruk dan Pengunjung Kian Sepi

SORONG, Catatan Jurnalist — Kondisi kawasan destinasi wisata mangrove Kampung Yeflio, Distrik Mayamuk, Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya (PBD), kian memprihatinkan. Destinasi wisata yang pernah menjadi kebanggaan daerah itu kini terbengkalai, sepi pengunjung, dan nyaris lumpuh akibat rusaknya infrastruktur utama.

Pantauan catatanjurnalist.com menunjukkan jembatan penghubung menuju kawasan wisata telah ambruk sejak lama dan tidak lagi layak dilalui. Kerusakan ini tidak hanya menghambat akses wisatawan, tetapi juga mematikan aktivitas ekonomi masyarakat sekitar.

Ironisnya, kawasan mangrove Kampung Yeflio merupakan destinasi wisata pertama di Kabupaten Sorong yang dibangun pemerintah daerah sejak 2008 melalui Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga. Namun hingga kini, objek wisata tersebut belum pernah diresmikan secara resmi dan terkesan dibiarkan tanpa pengelolaan yang jelas.

Ketua Pemuda Kampung Yeflio, Utrek Maran, menyebut kondisi ini mencerminkan lemahnya komitmen pemerintah daerah dalam merawat aset pariwisata yang telah dibangun menggunakan anggaran publik.

“Jembatan ini dibangun untuk menunjang pariwisata dan ekonomi masyarakat. Tapi sekarang ambruk dan dibiarkan begitu saja. Kami masyarakat sangat kecewa karena pemerintah daerah seolah menutup mata,” ujar Utrek, Kamis (5/2/2026).

Menurutnya, sejak awal pembangunan, tidak ada kejelasan sistem pengelolaan antara dinas terkait dan masyarakat kampung. Pemerintah disebut menyerahkan pengelolaan kepada masyarakat, namun tanpa kewenangan dan dukungan anggaran yang memadai.

“Kalau memang diserahkan ke masyarakat, seharusnya ada kejelasan supaya pemerintah kampung bisa mengambil kebijakan, termasuk menggunakan dana desa untuk renovasi. Tapi faktanya, kami tidak bisa berbuat apa-apa karena kewenangan tidak jelas dan tanah masih berstatus tanah adat,” tegasnya.

Akibat buruknya koordinasi dan lemahnya pengawasan, destinasi wisata yang diharapkan menjadi sumber pendapatan masyarakat justru berubah menjadi simbol kegagalan pengelolaan pariwisata daerah.

Warga menilai, pembiaran yang berlangsung bertahun-tahun ini menunjukkan minimnya perhatian Pemerintah Kabupaten Sorong terhadap potensi wisata dan kesejahteraan masyarakat kampung.

“Kami hanya butuh jembatan dan fasilitas diperbaiki. Kalau akses dibuka, wisata bisa hidup lagi. Tapi kalau dibiarkan seperti ini, berarti pemerintah memang tidak serius mengurus pariwisata,” keluh warga setempat.

Masyarakat Kampung Yeflio mendesak Pemerintah Kabupaten Sorong, khususnya Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga, segera turun ke lapangan untuk melakukan evaluasi menyeluruh dan memperbaiki infrastruktur yang rusak.

Hingga berita ini diturunkan, Pemerintah Kabupaten Sorong belum memberikan pernyataan resmi terkait rencana perbaikan maupun kejelasan status pengelolaan kawasan destinasi wisata mangrove Kampung Yeflio.

Laporan : Eskop Wisabla

banner 970x250

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Liputan Terkini