PALEMBANG, Catatan Jurnalist – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan masih tinggi memasuki puncak musim kemarau 2026. Hingga awal Agustus, sebanyak 781 kejadian karhutla tercatat terjadi di sejumlah wilayah Sumsel dengan luas lahan terdampak mencapai 664,87 hektare.
Data Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD Sumsel mencatat, 781 kejadian tersebut terjadi sejak 1 Januari hingga 3 Agustus 2026.
Kepala Pelaksana BPBD Sumsel, Muhammad Iqbal Alisyahbana, mengatakan seluruh personel gabungan terus disiagakan untuk mengantisipasi peningkatan karhutla selama musim kemarau.
“Potensi karhutla di Sumatera Selatan masih cukup tinggi. Karena itu, kami terus meningkatkan patroli, pemantauan hotspot, pemadaman darat maupun udara, serta mengajak masyarakat ikut berperan aktif mencegah kebakaran,” ujarnya, Selasa (4/8/2026).
BPBD Sumsel juga mencatat 113 titik panas atau hotspot terdeteksi di wilayah Sumsel pada 4 Agustus 2026 berdasarkan data Sistem Pemantauan Kebakaran Hutan dan Lahan (Sipongi) Kementerian Kehutanan.
Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) menjadi daerah dengan hotspot terbanyak, yakni 23 titik. Disusul Musi Banyuasin 20 titik, Banyuasin 16 titik, Lahat 10 titik, Ogan Ilir 9 titik, OKU 8 titik, Musi Rawas Utara 6 titik, Empat Lawang 4 titik, Muara Enim dan Musi Rawas masing-masing 3 titik, serta Kota Palembang 1 titik.
Secara akumulatif, jumlah hotspot di Sumatera Selatan sepanjang 2026 hingga awal Agustus telah mencapai 5.334 titik.
Ancaman karhutla semakin tinggi karena sebagian besar wilayah Sumsel masuk kategori Very High atau sangat mudah terbakar berdasarkan Fire Danger Rating System (FDRS) dari BMKG.
Kondisi tersebut dipengaruhi cuaca kering, luasnya kawasan rawan karhutla, sulitnya akses menuju lokasi kebakaran, keterbatasan sumber air, serta potensi kebakaran berulang di kawasan lahan gambut.
Praktik pembukaan lahan dengan cara membakar dan kondisi angin yang cukup kencang selama musim kemarau juga dinilai dapat mempercepat penyebaran api.
Berdasarkan pemantauan ASEAN Specialized Meteorological Centre (ASMC) pada 3 Agustus 2026, asap kategori sedang atau moderate haze terpantau di sebagian wilayah Banyuasin, Ogan Ilir, Ogan Komering Ilir, dan Musi Banyuasin.
Sementara itu, kualitas udara berdasarkan konsentrasi PM2.5 masih berada pada kategori sedang di sejumlah daerah, seperti Ogan Ilir, Prabumulih, Musi Banyuasin, Muara Enim, Musi Rawas, dan Lahat.
Menghadapi ancaman tersebut, BPBD Sumsel telah menyiagakan 11.567 personel gabungan yang terdiri dari BPBD, TNI, Polri, Manggala Agni, Lanud Sultan Mahmud Badaruddin II, Polisi Kehutanan, Satpol PP, Kelompok Tani Peduli Api, Masyarakat Peduli Api, hingga unsur perusahaan perkebunan dan hutan tanaman industri.
Dukungan armada udara juga disiapkan untuk mempercepat penanganan karhutla. Kekuatan tersebut terdiri dari satu pesawat patroli Cessna, satu helikopter patroli Airbus AS365 N2, serta lima helikopter water bombing yang ditempatkan di Lanud Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang.
BPBD Sumsel kembali mengingatkan masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar, tidak membuang puntung rokok sembarangan, dan segera melaporkan apabila menemukan titik api.
“Karhutla adalah tanggung jawab bersama. Pencegahan merupakan langkah paling efektif untuk melindungi lingkungan, kesehatan masyarakat, dan menjaga kelestarian hutan serta lahan di Sumatera Selatan,” tegas Iqbal.









